JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Halo Televisi Indonesia

OPINI: Halo Televisi Indonesia

426
BAGIKAN

tvSri Sugiastuti

Guru SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta

Anggota IGI Soloraya

 

Dia berada di sudut ruang tamu, di kamar tidur, di ruang tunggu rumah sakit, di apotik, atau di public space, bahkan di layar handphone. Dia berfungsi sebagai penghibur, yang membuat kita, tertawa, menangis, kesal, gemes, dan jadi tidak sabar, sekaligus rasa ketergantungan untuk selalu menatapnya. Ya, dia bisa  jadi sumber berita yang akurat, dengan live show, debat, reality show atau acara nyleneh lainnya. Bagaikan pisau bermata dua, di satu sisi dia menghibur dan memberi informasi yang kita perlukan. Di sisi lain secara tidak sadar kita masuk kepada jahiliayah, dimana begitu banyak kemaksiatan dipertontonkan.

Secara tidak sadar dan perlahan si “benda ajaib”ini mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup kita . Lihat saja cara bicara Anak Baru Gede (ABG) kita, lihat saja cara berpakaian mereka, tanpa berpikir ini pantas atau tidak, sopan atau tidak, nyaman atau tidak, sehingga banyak sekali yang jadi korban mode, sedangkan kita yang melihatnya jadi malu sendiri. Karena mereka memperlihatkan kemaksiatan dengan nyata.

Herannya, orangtua juga tidak melarang anaknya berpakaian yang kain bagian atas dan bawah kurang. Sehingga, sama juga tidak berbusana karena sedemikian ketatnya. Memang budaya meniru sedikit demi sedikit sudah menjangkiti ABG kita. Pengaruh buruk ini mereka dapat dari televisi terutama dari tayangan sinetron, gosip seleb, Jodha Akbar, dan King Suleiman membius pemirsa dan di siang hari menjadi obrolan yang mengasyikkan.

Dari mulai acara yang diminati anak-anak sampai orang dewasa semua ada di “benda ajaib” itu. Siaran iklannya pun bisa lolos sensor dengan mudah. Padahal, banyak sekali yang melanggar norma kesusilaan dan sama sekali tidak Islami, sedangkan mayoritas pemirsa  mengaku orang Islam. Adanya tayangan reality show yang dibuat terlalu berlebihan dan setting sedemikian rupa, atau dicomot langsung dari acara televisi di luar negeri dan tidak mencerminkan kepribadian orang timur, contohnya Take Him Out-nya Indosiar.

Konser Musik yang ditayangkan live, wah wah memperlihatkan betapa hausnya mereka akan hiburan, betapa ngefansnya mereka dengan bintang pujaannya  seperti Justin Bieber betapa relanya mereka mengorbankan waktu, biaya dan tenaganya untuk sebuah konser. Fenomena ini terjadi bukan saja di kota-kota besar tapi sudah merambah pada pertunjukan konser di kota-kota kecil. Penyanyi pop, dangdut koplo, ataupun rock selalu saja banyak diminati penonton. Hal ini menandakan bahwa orang yang senang hura-hura dengan yang mencari kebaikan di jalan Allah berbanding lebih besar pada kemaksiatan.

Kebrutalan dan kejadian kriminal juga kerap ditayangkan oleh si “benda ajaib”ini, ada Babe yang sudah membunuh begitu banyak anak jalanan, ada Om Ruhut Poltak yang bicara politiknya selalu menghibur, ada pula gosip seleb yang selalu ditunggu dan ditunggu. Berita live para pendemo dari berbagai kubu yang penuh dengan yel-yel yang tidak etis. Film action dengan penuh khayal dan kekerasan juga ada. Sinetron  yang berkisah tentang, harta, wanita, dan tahta, lalu dibalut dengan dendam kusumat yang tak pernah usai.

Sedang yang diminati anak-anak. Ya film kartun, contohnya Sponge Bob, Avatar, Naruto, Doraemon, dan Shinchan. Padahal, banyak kekurangajaran yang bisa dicontoh oleh anak-anak kita dari film kartun tersebut. Tokoh yang licik, usil, mau menang sendiri, atau pun yang bicaranya asal-asalan, semua ada di film kartun yang setiap hari dinikmati oleh anak-anak. Tanpa sadar, mereka mengidolakan tokoh-tokoh yang ada di film kartun tersebut.

Imbasnya, mereka jadi malas membaca, sehingga mereka tidak tahu siapa pahlawan nasional, siapa sahabat-sahabat Nabi Muhammad. Belum ada kata terlambat kalau kita mau bersama-sama mengontrol dan menyeleksi tayangan apa saja yang boleh dinikmati oleh anak-anak kita.

Sebenarnya kalau kita mau selektif dalam memilih acara yang disuguhkan di televisi jelas bisa. Cuma, apakah kita punya waktu untuk mendampingi anak-anak kita ketika mereka sedang menonton televisi. Ada si Bolang ada Jejak Petualang, Dunia Binatang, Dunia Air, Koki Cilik, Citacitaku, Laptop si Unyil dan masih ada tayangan yang memberi kontribusi untuk anak-anak yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus pendidikan. Cuma, porsinya masih terlalu sedikit dibanding dengan acara-acara lain yang kurang bermutu. Dan rating penontonnya juga sedikit sehingga para produser yang membuat film-film tersebut mikir dua kali untuk melanjutkannya.

Kadang, tanpa sadar kita hanyut dan kecanduan dengan salah satu program acara yang begitu kita minati, sehingga kita selalu menanti kehadirannya, dan ada rasa yang kurang kalau ketinggalan salah satu dari episode yang ditayangkan. Yang lucu lagi untuk menikmati acara itu, kita juga punya hidangan khusus untuk menemani kita agar tidak ngantuk bisa berupa snack plus minuman hangat, atau hanya berupa sesuatu yang membuat kita tidak ngantuk.

Yang lebih heboh lagi seringnya televisi yang menonton kita, bukan kita yang menonton televisi alias kita tertidur saat menonton televisi. Televisi dijadikan pengantar tidur. Padahal, sebelum tidur banyak hal yang disunnahkan untuk kita kerjakan.

Guru Fenomena Ini

Dalam situasi dan kondisi seperti ini, apa yang harus kita perbuat? Sebagai guru yang ikut betanggungjawab terhadap masa depan anak bangsa harus bisa memberi pengertian kepada siswanya berbagai tips menonton televisi yang sehat. Bagaimana kita menjadikan televisi  menjadi benda yang bermanfaat, bisa menjadi sarana kita dalam menggapai ridha Allah.

Sebaiknya kita menyetel atau menikmati acara si “benda ajaib”di luar waktu anak kita belajar. Pilih acara yang menghibur berupa pengetahuan, kalau toh menonton  berita pilih dari  channel yang dalam menyajikan beritanya secara proporsional, tidak memihak pada kebathilan, kebohongan, adu domba dan memancing ke arah yang memanas dan debat kusir yang berkepanjangan. Jadi, pandai-pandai lah kita dalam memilih channel televisi, memanfatkannya sebaik mungkin, cermati presenter yang santun. Karena sesungguhnya Allah menjadikan manusia dan jin untuk beribadah. Coba kita renungkan lagi apakah menonton televisi bisa dikatagorikan ibadah? Ya, ibadah kalau yang kita lihat dan dengarkan sebuah tayangan tausiyah, ilmu pengetahuan yang bermanfaat atau tayangan  berupa pencerahan yang membuat kita sadar akan hal- hal yang belum kita ketahui..

Kondisikan dalam diri ketika kita melihat televisi kita juga sedang memanfaatkan kebaikan dan kasih sayang Allah, sehingga kita tidak semaunya sendiri, dan menuruti hawa nafsu kita ketika melihat tayangan yang kadang mengarah pada kemaksiatan dan kesesatan. Meski dalam hidup kadang manusia mengalami kehampaan karena tidak tahu apa yang diinginkan dalam hidupnya. Cara mengatasinya, perbanyaklah  beribadah dan kurangilah keduniawian.Berusahalah untuk memberi kebaikan kepada orang lain maka kita akan temukan kebaikan untuk diri kita, lakukan yang bermanfaat  untuk dunia di sekitar kita. InsyaAllah kita bisa lebih dekat lagi dengan Allah.

Yang lebih utama, kita harus belajar dari kehidupan inilewat amalan. Karena manusia yang dapat mengubah apa yang salah  dan memanfaatkan keahlian yang dimiliki untuk kebaikan di bumi. Usahakan agar jalan kita semakin dekat dengan Allah hingga nantinya pengaruh dan pesona televisi tak akan memberi pengaruh yang negatif kepada anak didik dan keluarga kita.