JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Menyoal Sertifikasi Guru

OPINI: Menyoal Sertifikasi Guru

692
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

Muhammad Nur’alim

Guru SMP Negeri 25 Surakarta

Anggota IGI Soloraya

 

 

Sertifikasi guru merupakan program pemberian sertifikat pendidik bagi guru yang menjadi bukti formal pengakuan guru sebagai tenaga profesional. Program sertifikasi guru ini mulai digulirkan setelah pengesahan UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Gelombang sertifikasi guru selalu dilaksanakan setiap tahunnya. Ada tiga jenis sertifikasi guru yang telah dilaksanakan. ketiganya adalah Pemberian Sertifikat Langsung (PSPL), portofolio dan PLPG. Ketiga bentuk sertifikasi tersebut diperuntukkan bagi guru yang diangkat sebelum tahun 2005 dengan kriteria masing-masing.

Tahun 2015, program sertifikasi guru melalui ketiga pola tersebut sudah tidak dilaksanakan lagi.  Sebagai gantinya, pemerintah melaksanakan program Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan yang selanjutnya disebut PPGJ. Program ini merupakan pola baru sertifikasi guru. Program ini diperuntukkan bagi guru yang diangkat setelah tahun 2005 atau setelah pengesahan UU tentang Guru dan Dosen.

Pola sertifikasi guru melalui PPGJ sama sekali berbeda dengan pola sebelumnya. Untuk mendapatkan sertifikat pendidik, guru diharuskan tiga tahapan PPGJ. Pertama, penyusunan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang akan dinilai sebanyak 10 SKS. Kedua, mengikuti workshop selama 16 hari untuk menyelesaikan 12 SKS. Ketiga, praktik pembelajaran di sekolah tempat bertugas selama 60 hari atau setara 14 SKS.

Rekognisi

Rekognisi Pembelajaran Lampau merupakan penghargaan terhadap pengalaman kerja dan hasil belajar yang dimiliki guru. Selama menjalankan tugasnya, guru dianggap telah memiliki banyak pengalaman. Pengalaman kerja guru terdiri dari perencanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melakukan evaluasi/penilaian, melakukan analisis hasil penilaian, dan tindak lanjut terhadap evaluasi hasil belajar siswa.

Selama menjadi guru itu pula, guru juga dianggap telah memperoleh pengalaman belajar. Pengalaman belajar yang dimaksud berkaitan dengan kualifiksi akademik yang telah diperoleh, pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti, serta prestasi akademik yang dicapai. Kualifikasi akademik yang dinilai berupa gelar ijazah S-2 atau S-3 yang telah diperoleh selama menjadi guru. Bagi guru yang aktif mengikuti pendidikan dan latihan tentu akan memperoleh tambahan pengalaman belajar. Begitu pula bagi guru yang memiliki prestasi akademik, dianggap telah memiliki hasil belajar yang lebih baik.

Di dalam penyusunan RPL, guru  yang mengikuti PPGJ diminta untuk menyusun dokumen pengalaman pembelajaran dan pengembangan diri. Komponen ini terdiri dari deskripsi diri, pengalaman mengajar, pendidikan dan pelatihan.

Deskripsi diri harus memuat usaha kreatif guru yang telah atau sedang dilakukan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Usaha kreatif guru inilah yang akan menjadi salah satu komponen penilaian terhadap pengalaman guru. Usaha kreatif yang dilakukan oleh guru ini disertai dengan dampak instruksional dari kreativitas yang dilakukan, kedisiplinan dan keterbukaan terhadap saran dan kritik kepala sekolah maupun teman sejawat. Guru yang memiliki kreativitas dalam melakukan proses pembelajaran, tentu akan mudah mendeskripsikan usaha kreatif yang dilakukan oleh guru selama melaksanakan tugasnya.

Tak cukup hanya pengembangan kualitas pembelajaran, guru perlu mendeskripsikan keterlibatan dirinya dalam pengembangan institusi sekolah dan kegiatan kesiswaan. Peran guru dalam penyusunan Evaluasi Diri Sekolah (EDS), terlibat dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), serta kegiatan ekstra kurikulum sangat penting.

Akan tetapi, kenyataan yang terjadi, tak banyak guru yang terlibat dalam penyusunan EDS maupun penyusunan RKAS. Apalagi guru-guru muda yang diangkat setelah tahun 2005. Bagi sekolah yang mengikutsertakan seluruh warga sekolah dalam penyusunan EDS dan RKAS, tentu keterlibatan guru di dalamnya sangatlah diperlukan. Akan tetapi, bagi sekolah yang kurang melibatkan seluruh warga sekolah dalam penyusunan EDS dan RKAS, akan sangat sulit menemukan keterlibatan guru di dalamnya. Apalagi diperparah dengan masih adanya manajemen sekolah yang bersifat birokratis dan top down.

Pengalaman guru dalam kegiatan kesiswaan dapat berupa keterlibatannya dalam membina OSIS, Pramuka, PMR maupun kegiatan lainnya. Dalam hal kegiatan kesiswaan, sekolah banyak yang mengandalkan guru muda. Banyak dari mereka yang dilibatkan untuk menjadi pembina Pramuka, PMR maupun kegiatan OSIS seperti Latihan Dasar Kepemimpinan, MOS dan PPDB. Keterlibatan guru dalam kegiatan kesiswaan seperti ini dapat dijadikan sebagai salah satu nilai tambah dalam penyusunan Rekognisi Pembelajaran Lampau.

Workshop dan Praktik  

Setelah guru mendapat 10 SKS dari RPL, selanjutnya guru mengikuti workshop selama 16 hari atau setara 168 Jam Pelajaran. Pada kegiatan tersebut, guru mengikuti aktivitas pendalaman materi, pengembangan perangkat pembelajaran, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan peer teaching yang diakhiri dengan ujian tulis formatif.

Selanjutnya, bagi peserta yang telah lulus ujian tertulis diwajibkan mengikuti kegiatan praktik pembelajaran di sekolah tempat guru bertugas. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pemantauan selama 2 bulan di luar libur antarsemester. Pascamengikuti kegiatan praktik di sekolah dan pemantauan selama 2 bulan, selanjutnya peserta PPGJ mengikuti kegiatan Ujian Tulis Nasional. Barulah guru memperoleh sertifikat pendidik setelah dinyatakan lulus uji kinerja dan Ujian Tulis Nasional.

Sisakan Persoalan

Pola PPGJ ini menyisakan 2 persoalan. Pertama, masih adanya guru yang diangkat sebelum tahun 2005 yang belum sertifikasi. Guru yang diangkat sebelum tahun 2005 masih banyak yang belum memperoleh sertifikat pendidik. Jika dihitung dari tahun 2015, guru kategori ini memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun. Mestinya mereka diselesaikan sertifikasinya melalui pola PLPG.  Faktanya, pada tahun ini, mereka belum memperoleh sertifikat pendidik. Lalu, mengapa PLPG sudah tidak dilaksanakan lagi di tahun 2015 ini?

Dari daftar calon peserta sertifikasi guru 2015 yang diakses melalui website http://sergur.kemdiknas.go.id terdapat banyak guru yang memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun. Banyak pula di antara mereka yang berusia lebih dari 50 tahun. Akibatnya, mereka diharuskan mengikuti sertifikasi melalui pola PPGJ yang semestinya tidak diperuntukkan bagi guru kategori ini. Hal ini tentu akan memberatkan mereka, karena harus melalui tiga tahapan PPGJ.

Mereka seharusnya mengikuti program sertifikasi melalui pola PLPG. Lalu, mengapa PLPG sudah tidak diadakan lagi tahun 2015?

Kedua, penggunaan Kurikulum 2013 dalam tahapan PPGJ. Pada tahapan penyusunan RPL, guru diharuskan menyusun pengalaman kerja berdasarkan Kurikulum 2013. Di antaranya adalah penyusunan analisis buku ajar dan perangkat pembelajaran sesuai Kurikulum 2013.

Hal ini menjadi persoalan, seiring dengan penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 untuk semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Banyak sekolah yang kembali ke Kurikulum 2006. Tentu, penyusunan RPL yang mengharuskan penggunaan Kurikulum 2013 ini tidak sesuai dengan kondisi di sekolah yang kembali ke Kurikulum 2006.

Akan lebih bijak, jika pengalaman kerja yang disusun oleh guru didasarkan pada pengalaman selama menjadi guru. Tentunya, penyusunan RPL juga disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan di sekolah tempat guru tersebut bertugas. Entah itu menggunakan Kurikulum 2013, atau Kurikulum 2006, atau bahkan keduanya.