JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Mewujudkan Ekonomasjid

OPINI: Mewujudkan Ekonomasjid

304
BAGIKAN

Diah Ratih Anggraini

Penerima Beasiswa Unggulan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Dunia pastinya mengingat delapan ambisi pembangunan yang tertuang dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang menegaskan komitmen untuk meniadakan kemiskinan dan mencapai tujuan pembangunan manusia lainnya pada tahun 2015.

Tujuan yang dicanangkan oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada bulan September tahun 2000 tersebut antara lain: mengentaskan kemiskinan dan kelaparan ekstrem, mewujudkan pendidikan dasar universal, meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi tingkat mortalitas anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, menjaga kelestarian lingkungan hidup dan membina kerja sama global bagi pembangunan.

Kini 2015 telah berjalan di depan mata. Tak hanya tantangan MDG saja yang mengemuka, namun ASEAN Economic Community-pun membuat negara Indonesia, sebagai negara berkembang, harus memutar otak untuk mengerahkan seluruh kemampuannya bersaing dengan negara-negara di Asia Tenggara dan tentunya terus menyelenggarakan pembangunan yang tujuan utamanya tidak lain adalah kesejahteraan masyarakat. Dan kemiskinan merupakan target pembangunan yang tidak lekang oleh perkembangan teknologi sekalipun hingga saat ini.

Kota Solo turut menjadi perhatian pelosok negeri. Bukan hanya karena presiden RI terpilih 2014 yang fenomenal, Bapak Jokowi berasal dari Kota Solo, namun juga kota yang ber-tagline herritage city ini memikat banyak mata dengan kultur yang tetap dipertahankan dari beberapa sisi. Seperti tradisi keraton, pasar tradisional, pakaian adat, dan lain-lain.

Namun demikian, kota yang memiliki luas wilayah 46,01 juta km2 (kemendagri.go.id) ini, tak luput dari tantangan MDG maupun AEC.

Dengan berbagai tantangan yang ada, sebuah daerah haruslah pandai-pandai mengelola unsur-unsur wilayah yang dimiliki. Pemerintah haruslah mengupas sedalam-dalamnya potensi yang dimiliki dalam unsur-unsur wilayah tersebut. Hal itu, dilakukan seiring dengan dinamika pembangunan yang ada, tidak henti memberikan tantangan bagi pemerintah daerah untuk terus berbenah.

Hal yang menjadi perbincangan hangat sejak dekade milenium ini dimulai, salah satunya adalah kebangkitan ekonomi Islam di dunia, yang juga menjalar ke Indonesia setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992 yang juga diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Meja-meja seminar, talkshow, tv show juga ramai-ramai memperbincangkan dan mengabarkan perkembangan ekonomi Islam dari waktu ke waktu. Yang ternyata, perkembangan ekonomi Islam tidak hanya dinikmati oleh kaum muslim saja, namun juga oleh kaum nonmuslim seperti halnya perbankan syariah di Inggris yang menuai respon positif dari para warga Inggris. Hal ini membuktikan bahwa Islam sebagai rahmatan lil’alamiin.

Di Kota Solo, seperti halnya di daerah-daerah di Indonesia lainnya, telah ramai pula berdiri Lembaga-lembaga Ekonomi dan Keuangan Syariah, antara lain bank syariah, bank pembiayaan syariah, baitul mal wattamwil (BMT), asuransi syariah, dll.

Perkembangan ekonomi syariah ini, harusnya tidak membuat salah satu aspek dari kehidupan umat muslim menjadi terpinggirkan. Di mana kehidupan dunia dan akherat menjadi abu-abu.

Dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sosial, nampaknya telah membuat hal tersebut menjadi seakan-akan wajar. Padahal semestinya, dunia ini berhubungan erat dengan akhirat. Dan salah satu aspek kehidupan umat Islam yang terpinggirkan dari kehidupan sosial adalah masjid. Padahal, masjid juga erat kaitannya dengan pengelolaan dana-dana voluntary sector dalam Islam yang tujuannya juga merupakan pencapaian kesejahteraan masyarakat.

Masjid sebagai rumah ibadah umat Islam dan juga sentra pengembangan agama Islam ini merupakan potensi pembangunan yang selama ini membisu. Di Kota Solo, masjid harusnya tak luput dari hingar-bingar perkembangan ekonomi Islam.

Pada tahun 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah masjid yang berdiri di kota Solo sebanyak 554 buah. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat lainnya termasuk para ulama dan akademisi, yang termasuk dalam jumlah penduduk muslim kota Kota Solo yakni sebanyak 192.537 juta jiwa (Badan Pusat Statistik 2013), seharusnya bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Jika mengingat kembali perjuangan dakwah di masa awal pengembangan ajaran Islam, masjid memiliki peranan yang penting. Masjid difungsikan sebagai tempat untuk pemberdayaan umat. Di awal hijrah ke Madinah, Rasulullah Muhammad SAW membangun masjid Nabawi yang di dekatnya dibangun pula sebuah pasar.

Rasulullah Muhammad SAW juga memanfaatkan masjid sebagai tempat untuk mengatur strategi perang, politik, hukum, sosial, budaya, dan tentunya ekonomi. Bahkan hingga saat ini, masih dijumpai pasar di sekitar Masjid Nabawai dan masjidil Haram, tempat di mana para jemaah haji membeli berbagai macam oleh-oleh.

Masjid memang difungsikan sebagai sentra ibadah kepada Allah-hablumminallah (sholat, mengaji, berdzikir), namun juga perlu diingat, bahwa mencari nafkah-hablumminannaas juga merupakan ibadah.

Potensi yang tersimpan di dalam masjid antara lain pengelolaan instrumen voluntary sector seperti infak, shodaqoh, zakat yang seharusnya bisa dikelola dengan lebih produktif, sehingga masyarakat juga merasakan kebermanfaatannya.

Selama ini, harta-harta yang terhimpun di masjid hanya disalurkan untuk sektor nonproduktif, seperti bantuan pendidikan kepada anak yatim dan santunan orang miskin. Hal tersebut memang sepintas tidak ada yang salah. Karena memang infak, sedekah yang diinstruksikan dalam Islam ditujukan untuk membantu sesama.

Namun, ini ibaratnya memberikan umpan kepada ikan, dan bukan kailnya. Hal ini sama saja dengan “memotong” potensi yang sebenarnya bisa diolah oleh masyarakat penerima dana tersebut.

Kewirausahaan menjadi sorotan tajam dalam perilaku keseharian masyarakat Indonesia pada umumnya.

Masyarakat Indonesia cenderung konsumtif dalam kesehariannya. Sebagai salah satu dana yang diperuntukkan untuk kesejahteraan umat, seharusnya dana yang dihimpun oleh masjid mampu mensejahterakan jamaahnya, salah satunya melalui program kewirausahaan tersebut.

Hal ini harus dimulai dengan suatu tekad keprofesionalan dari berbagai pihak, termasuk di dalamnya para akademisi, pemerintah dan juga orang-orang muslim yang mampu.

Masjid harus digerakkan oleh para takmir yang berpikir kreatif dan inovatif dalam pengelolaan dana masjid. Sehingga akhirnya, masjid memiliki perannya kembali sebagai tempat untuk pemberdayaan umat seperti di jaman Rasulullah SAW. Di mana masjid juga tetap berjalan sebagaimana mestinya tempat ibadah untuk salat, berdoa, berzikir kepada Allah, ataupun mengaji dan mengkaji Al Quran, masjid juga sebagai tempat untuk menggerakkan perekonomian umat.

Jika masjid diikutsertakan dalam proses pembangunan, hal tersebut juga akan selaras dengan REVOLUSI MENTAL yang gencar dideklarasikan Presiden Jokowi kala kampanye 2014 lalu. Selain daripada akhlak atau perilaku orang per orang, masjid juga memiliki “fungsi ekonomis” dalam pembangunan masyarakat.