JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Referensi Berumah Tangga

OPINI: Referensi Berumah Tangga

260
BAGIKAN

 

Joglosemar/Yuhan Perdana
Joglosemar/Yuhan Perdana

Dwi Supriyadi

Santri Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo

 

URUSAN rumah tangga kini bereferensi pada televisi (sinetron). Ditambah lagi sinetron bertajuk “Islami” semakin banyak dihadirkan. Berharap bisa menjadi referensi keluarga muslim Indonesia. Rujukan keluarga Islami mulai bergeser dari kitab suci, kisah nabi dan rasul, kisah teladan, dan nasihat bijak, berganti menjadi kisah sinetron. Ternyata, banyak penonton tertambat hatinya hingga televisi swasta berani memunculkannya di waktu primetime. Sang produser sadar bahwa kini muda-mudi banyak yang belum siap memasuki hidup berumah tangga. Sehingga mereka pelu mendapatkan referensi menjalani kehidupan berumah tangga. Rumah tangga Islami khususnya

Sialnya, urusan rumah tangga yang dihadirkan dalam sinetron sering berkutat pada urusan perebutan harta warisan, penculikan, kekerasan terhadap anak dan istri, penghinaan pada orangtua atau mertua. Urusan berumah tangga menjadi hitam putih pada urusan tampilan: menor atau sederhana, miskin atau kaya, cantik atau jelek, kasar atau penurut, emosional atau tabah. Tentu kehidupan berumah tangga di negeri ini akan rusak jika merujuk pada sinetron.

Nj Aisjah Dachlan memberikan nasihat lewat buku Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah Tangga (1969) “Rumah tangga laksana suatu keradjaan ketjil, sang ajah bertindak sebagai penguasa dilandasi tjinta kasih sajang, sehingga dapat dirasakan manisnja kehidupan dan perdamaian. Sang ibu mengurus dan mengatur, mendjadikan rumah tangga itu sebagai muara jang aman damai, pelabuhan jang teduh tenang dan tempat peristirahatan jang indah menarik untuk seluruh keluarga baik waktu suka dan duka, waktu sakit dan senang tempat mereka menjimpan hati, pergi tempat bertanja, pulang tempat berberita.”

Nasihat Nj. Aisjah Dachlan semakin membuat terang bahwa hidup berumah tangga bukan semata urusan sandang, pangan, lan papan atau mungkin urusan memberi cinta dan mabuk oleh cinta. Rumah tangga lebih dekat pada urusan kemuliaan hidup untuk mencapai pemaknaan kehidupan dan kedamaian. Arsul Tumenggung memberikan istilah yang lebih puitis dalam  Petundjuk Bersuami dan Beristri (1957) bahwa perkawinan itu satu “seni kehidupan” karena di dalamnya akan ada masalah yang sulit dilalui dan dipecahkan dengan teori pragmatis. Penulis memberikan penegasan bahwa hadirnya buku ini memberikan petundjuk suami dan istri yang terpuji.

Namun, hadirnya sinetron mutakhir sering merusak pengertian itu.  Pemaknaan istri idaman cenderung mengarah pada perspektif feminisme. Kalangan feminis sering memposisikan sejajar dengan kaum laki-laki. Namun sayang proses resistensi dan usaha kesetaraannya justru semakin direpresi gaya modernitas. Menyuarakan diri atas nama kesetaraan atau emansipasi justru terjerumus dalam bingkai kapitalistik. Masuk dalam praktik konsumsi, royal dalam fashion dan kecantikan. Lakon kapitalistik semakin kontradiksi dalam identitas diri sebagai seorang wanita dalam rumah tangga (Macaisme, 2011).

Hal inilah yang akhirnya membuat sekat dominasi suami-istri. Suami-istri tidak lagi berada dalam posisi saling melengkapi dan berbagi. Berganti menjadi perintah dan larangan, kemudian berkembang menjadi saling membandingkan dan menuntut. Pada tahap kronis istri feminis yang berkiblat pada sinetron semakin bertopang dalam karier, menolak memiliki anak. Membebaskan diri dari pekerjaan domestik atas nama kepentingan karier. Istri seperti inilah yang sering disebut sebagai istri tangguh.

Kita akan mendapat pengertian berbeda dari Daoed Joesoef tentang istri tangguh dalam rumah tangga. Kisah Djasi’ah dari Sumatera Utara yang tidak lain adalah ibunya, dikenangnya dengan penuh cinta dalam memoar berjudul Emak. Goenawan Mohammad dalam Caping: 7 memberikan gambaran Djasi’ah sebagai perempuan berani menentang berbagai persoalan hidup: pendidikan, lingkungan, agama dan masyarakat, serta ilmu pengetahuan. Ia berani menentang apa yang sudah dianggap lazim dan baik oleh masyarakat sekitarnya.

Soal larangan naik sepeda bagi perempuan, Djasi’ah berani menentangnya. Ia juga bersikukuh menyekolahkan anaknya yang perempuan di Meisjes Vervolgschool. Si Daoed juga disekolahkan ke “sekolah Belanda” yang oleh orang kampung disebut sebagai “sekolah kafir”. Djasi’ah memang wanita kuat yang menakjubkan dan tak terduga-duga. Ia bertahan dengan cemooh orang atas kebenaran yang ia yakini.

Dalam epos Mahabarata kita akan mendapati banyak wanita kuat dalam konteks rumah tangga seperti Djasi’ah: Kunthi, Gandhari, Drupadi, dan Srikandi adalah wanita yang sering disebut dalam kisah pewayangan. Krisna memberikan pernyataan betapa kuatnya wanita dalam Srikandi Ksatria Putri yang Perkasa (2006). “Pada dasarnya semua wanita kuat, bahkan lebih kuat dari lelaki. Wanita memperoleh kekuatan yang sangat besar dari kemampuannya menahan penderitaan. Tetapi kekuatan itu sering tersembunyi”. Kekuatan menyelami (nrimo) terhadap penderitaan inilah yang kemudian kita mengenal konsepe “amor fati” Friedrich Nietzsche’s.

Maka, berumah tangga tak selalu harus berkiblat pada sinetron. Ki Hadjar memberikan nasihat peran seorang wanita dalam “Rumah Keluarga” dalam buku Soal Wanita (1961). Bahwa seorang  wanita mempunyai kedudukan yang sangat mulia yaitu sebagai ibu pertama kalinya. Ia berperan sebagai “Ratu Keluarga” yang memiliki peran pemeliharaan rumah tangga, sebagai djuru rawat, sebagai pengasuh dan pendidik terhadap anak-anaknya secara rohani dan teratur, saksama dan lengkap.

Persepektif ini juga sejalan dengan kehidupan wanita Jawa. Koentjoroningrat menegaskan bahwa istri memiliki peranan strategis dalam menejemen anggaran dan belanja rumah tangga, sehingga dalam hal ini istri setara dengan suami (Kuasa Wanita Jawa, 2004). Dalam skala yang lebih luas seorang istri akan lebih kuat karena memiliki “jaringan dominasi wanita” saat berhubungan dengan kekuasaan. Denis Lombard menambahkan kekuatan seorang wanita dipengaruhi dari peranan mereka di balik layar dalam urusan domestik rumah tangga. Hal inilah yang menjadikan wanita Jawa di masa lalu begitu “kuat” karena memiliki peran dalam pengambilan formal dengan memanfaatkan feminitasnya.

Referensi ibu rumah tangga sebagai wanita karier (bukan ibu rumah tangga) sering di dapatkan dari sinetron-sinetron di televisi. Referensi berumah tangga selayaknya kembali pada nasihat-nasihat dalam kitab, sesepuh, dan orang bijak. Bukan dari televisi dan sinetron. Begitu.