JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Rektor UMS, Calon Walikota Solo?

OPINI: Rektor UMS, Calon Walikota Solo?

415
BAGIKAN

ilustrasi
ilustrasi

Imron Rosyadi

Dosen Prodi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Kalimat tanya dalam judul artikel ini, maknanya bukan bermaksud “mempertanyakan” kapasitas/kompetensi Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Profesor Bambang Setiaji (BS), sehubungan dengan munculnya nama itu dalam bursa Bakal Calon (Balon) Walikota Solo beberapa bulan terakhir ini. Namun, lebih pada bersedia atau tidaknya BS dicalonkan sebagai Walikota Solo, jika bersedia seberapa besar peluang BS akan terpilih sebagai calon Walikota pada Pilkada Solo mendatang.

Survei calon Walikota Solo yang dilakukan Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional (DPD PAN) Solo beberapa waktu yang lalu, dengan mengambil setting waktu 10 Desember 2014 – 10 Januari 2015 dan objek survei sebanyak 1.000 responden yang berasal dari kelompok binaan PAN di luar struktur DPD, menempatkan BS pada posisi ketiga dengan perolehan 61 suara (7,24 persen). Posisi di atas BS muncul nama Umar Hasyim dan Achmad Purnomo. Berdasarkan hasil survei itu, apakah pertanda awal BS mampu leading, jika ia bersedia dicalonkan sebagai Walikota Solo?

Kepala daerah berlatar belakang akademisi, tentunya bukan hal baru bagi beberapa kabupaten/kota di Indonesia, sebut saja Nurdin Abdullah (NA) merupakan Bupati Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, yang berasal dari kalangan kampus bergelar Profesor Ilmu Kehutanan Universitas Hasanudin. NA dipandang cukup berhasil dan berprestasi gemilang dalam memimpin Bantaeng. Sejak di bawah kepemimpinannya, Bantaeng mengalami akselerasi pembangunan yang terbilang cepat, pertumbuhan ekonomi Bantaeng saat ini sebesar 8,9 persen per tahun, dibandingkan sebelum kepemimpinan NA hanya tumbuh 5,3 persen per tahun. Kemudian, indeks pendapatan per kapita juga meningkat dari Rp 5 juta menjadi Rp 14,7 juta serta banyak prestasi lain yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan atau kemajuan daerah.

Merujuk pada keberhasilan NA memimpin Bantaeng, boleh saja kita mengajukan hipotesis bahwa kapasitas akademik seorang kepala daerah, boleh jadi sebagai faktor pendorong kemajuan pembangunan di daerah, meskipun hipotesis itu masih perlu dikonfirmasi kebenarannya. Namun terlepas dari benar atau tidaknya hipotesis tersebut, tampaknya ke depan untuk membangun Indonesia yang berkemajuan dibutuhkan sentuhan “tangan dingin” para akademisi.

Maknanya, semua komponen bangsa harus memberikan kesempatan para akademisi agar bisa berkontribusi nyata dalam mengelola pemerintahan dan membangun daerahnya. Tentu bukan  bermaksud melakukan diskriminasi terhadap calon kepala daerah yang berlatar belakang lain seperti, birokrasi, pengusaha ataupun politikus, namun tidak ada yang salah apabila kita sebagai sebuah bangsa, memberi kesempatan yang sama juga kepada akademisi. Sepanjang, dipandang mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi daerah itu. Toh, selama ini juga banyak calon kepala daerah dalam Pilkada masih didominasi dari kalangan politikus.

 

Menakar Kapasitas BS

BS mengawali kariernya sebagai Rektor UMS pada 2005, terpilihnya BS sebagai rektor, lantaran ia memiliki kapasitas akademik dan skill kepemimpinan yang memadai: berpengalaman menangani bidang akademik universitas selama dua periode. Direktur pascasarjana dan berhasil menyandang guru besar yang pertama kalinya dihasilkan UMS sendiri.

Pada akhir 2013, BS terpilih kembali sebagai Rektor UMS untuk periode ketiga. Meskipun sempat menimbulkan “riak gelombang kecil” karena menjabat rektor lebih dari dua periode yang dianggap tidak sejalan dengan kaidah dan statuta Muhammadiyah. Namun, hal itu bagi PP Muhammadiyah bukanlah hal yang krusial, karena UMS ke depan dipandang masih membutuhkan “tangan dingin” BS untuk take-off menuju UMS bertaraf Internasional.

Periode pertama (2005-2009) kepemimpinannya, BS dipandang berhasil membangun kapasitas organisasi (baca: universitas). Pembukaan beberapa program studi baru, program pascasarjana, pendidikan profesi dan kelas internasional di lingkungan UMS merupakan hal yang menandai keberhasilan itu. Periode ini juga menandai UMS merespons dengan cepat permintaan pasar tenaga ahli yang dibutuhkan masyarakat atau industri kekinian.

Secara perlahan, penataan dan perbaikan manajemen administrasi universitas, baik umum, keuangan maupun akademik juga terus di lakukan, sehingga upaya inipun membuahkan hasil, pada 11 Maret 2008 UMS meraih akreditasi institusi dengan level B (Baik). Pada 2009, BS juga berhasil menempatkan UMS pada peringkat ke 11 terbaik PTN/PTS di Indonesia (Webometric, 2009).

Periode kedua (2009-2013) bisa saja disebut sebagai periode penguatan kapasitas organisasi dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Karena pada periode ini, BS banyak melakukan terobosan yang terkait dengan upaya meningkatkan kualitas dosen dan karyawan. Pada medio itu banyak dosen yang berhasil lulus program doktoral (S-3) dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri ternama.

Budaya akademik pun semakin menguat yang ditandai dengan semakin banyaknya dosen yang meraih proyek-proyek riset dan pengabdian masyarakat. Sistem administrasi umum/kepegawaian, akademik dan keuangan berbasis Teknologi Informasi (IT) pun terus mengalami perbaikan secara signifikan, sehingga mampu meningkatkan pelayanan dan kinerja seluruh civitas akademika.

Tidak berlebihan, jika masa kepemimpinan BS, universitas berhasil membangun institusi dengan sistem yang memungkinkan civitas akademika tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan penyimpangan (korupsi, kolusi dan nepotisme). Sehingga, boleh saja dikatakan, saat ini UMS telah menjalankan prinsip-prinsip tata kelola universitas yang baik (good university governance).

Periode ketiga yang akan berakhir 2017, bagi BS dicanangkan sebagai fase UMS untuk tinggal landas menuju universitas kelas dunia. Upaya nyata yang dilakukan UMS untuk mewujudkan misi besar itu antara lain, menjalin kerja sama dengan berbagai universitas luar negeri terbaik dunia, seperti Kingston University, Charles Darwin University, Derby University. Menjalin kerja sama dengan mitra swasta pun dilakukan UMS untuk mewujudkan hasil-hasil riset yang dapat dikomersialisasikan dan dimanfaatkan masyarakat dan industri secara meluas.

Kesimpulannya, selama tiga periode memimpin UMS, BS dipandang berhasil memajukan dan membesarkan institusi pendidikan ini, yang ditandai dengan kepercayaan (trust) masyarakat dari tahun ke tahun meningkat. Hal ini bisa dilihat dari total jumlah mahasiswa yang fantastis untuk ukuran universitas swasta, ada 27.568 mahasiswa yang masih aktif belajar di UMS yang tersebar dari jenjang D3, Sarjana, Pascasarjana dan doktoral.

Dalam konteks itu, tahapan yang dilakukan BS membangun perguruan tinggi selama tiga periode, barangkali bisa menjadi modal awal untuk mewujudkan visi Kota Solo sebagai Kota budaya, mandiri, maju dan sejahtera. Maknanya, kapasitas akademik dan kepemimpinan BS bisa saja ditransformasikan untuk mengelola Kota Solo yang berkemajuan dan sejahtera di masa mendatang.

Alhasil, meskipun penulis bagian dari UMS, tidak punya pretensi politis apapun, kecuali upaya kecil ikut berkontribusi mencerahkan masyarakat tentang khasanah (keragaman) pilihan pemimpin yang terbaik untuk Kota Solo. Dan harus objektif, sebagai pemimpin BS pasti punya kelemahan. Apalagi, ia relatif tidak banyak menghadapi masa-masa krisis dalam organisasi, sehingga kepemimpinannya belum teruji dari sisi itu. Sebagaimana sering disampaikan para pakar kepemimpinan bahwa kualitas sesungguhnya kepemimpinan seseorang terlihat ketika ia menghadapi krisis (Lussier & Achua, 2009). Wallahu ‘alam.