JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Rumah Panggung, Solusi Banjir

OPINI: Rumah Panggung, Solusi Banjir

367
BAGIKAN

Seorang anak melintasi banjir di Pucang Sawit Jebres Solo, Jumat (20/02/2015). Ketinggian air dikawasan tersebut pada Jumat dini hari mencapai paha orang dewasa. Foto: Maksum N F
Ilustrasi: Joglosemar/ Maksum N F

Isvan Fajar Satria

Mahasiswa Teknik Sipil UMS

Penerima Beasiswa Unggulan Tahun 2012

 

Membeludaknya pertumbuhan perumahan di berbagai kota di Indonesia tidak diimbangi dengan kualitas pembangunan perumahan.Pembangunannya pun tanpa berpikir lebih jauh dalam memperhatikankeramahan terhadap lingkungan. Kebanyakan para pengembang tidak memikirkan faktor produktivitas tanah, misalnya masih banyak pengembang yang menjadikan lahan produktif seperti pertanian dan perkebunan dijadikan area pengembangan perumahannya.

Lebih jauh lagi yang menjadi permasalahan utama adalah daerah resapan air, terutama di daerah dataran tinggi yang sebenarnya berfungsi sebagai daerah penahan air, seperti di daerah Puncak Bogor, lalu kawasan Tawangmangu dan sekitarnya banyak dibangun vila atau tempat penginapan. Ketika daerah resapan air berkurang, bisa kita ketahui daerah yang berada di bawahnya akan berpotensi mengalami banjir.

Selain itu kebanyakan perumahan di Indonesia cenderung mengakibatkan suasana lingkungan menjadi lebih panas dari pada sebelumnya. Ini bisa terjadi karena konsep arsitektur hijau yang seharusnya digunakan sebagai konsep pembangunan mulai banyak dilupakan.

Suasana lingkungan perumahan kebanyakan hanya bangunan-bangunan rumah saja, jarang sekali para pengembang perumahan membuat area hijau di lokasi perumahan, semisal taman atau mungkin air mancur. Padahal keberadaan pohon-pohon di area perumahan tentu sangat dibutuhkan untuk menurunkan suhu lingkungan serta membantu penyerapan karbondioksida, juga ketika musim penghujan datang setidaknya ada yang mampu menyerap air sehingga tidak terjadi banjir di lingkungan perumahan tersebut.

Masalah pembangunan ini tentu bukan saja pemerintah yang harus bertanggung jawab, tapi ini tanggungjawab semua pihak. Pemerintah, akademisi, pengembang, juga masyarakat harus bekerja sama demi terwujudnya pembangunan yang baik.

Pemerintah dalam masalah ini memiliki peranan sebagai pembuat aturan, juga sebagai pengawas pembagunan perumahan. Akademisi sesuai bidangnya harus berperan sebagai kelompok pengkaji permasalahan juga memberikan solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut. Mencari konsep pembangunan perumahan mulai dari bentuk bangunan yang baik, bahan bangunan, menentukan lokasi yang tepat, dan juga masalah pemanfaatan energi haruslah sebaik mungkin.

Para pengembang yang terus melakukan pembangunan perumahan harus bisa memikirkan baik dan buruknya bagi lingkungan. Tidak kalah pentingnya peran masyarakat sebagai pengamat dan juga konsumen, harus lebih kritis. Sebab dampak baik maupun buruk akan secara langsung dirasakan oleh masyarakat.

Sebagai konsumen, masyarakat juga memiliki hak memiliki rumah yang aman dan nyaman, hak ini tentu wajib dipenuhi sehingga terjadi hubungan yang baik antara pengembang dan konsumen atau masyarakat.

Tidak banyak solusi yang pernah ditawarkan oleh para pengembang maupun pemerintah. Hanya sedikit pengembang perumahan yang memakai konsep arsitektur hijau dalam pembangunan perumahannya, tapi hal ini tidak terlalu besar dampaknya. Selain itu meskipun memakai konsep arsitektur hijau, tetap saja tidak banyak mencegah berkurangnya daerah resapan air yang dapat mengakibatkan banjir.

Salah satu konsep pembangunan rumah yang bisa digunakan untuk menanggulangi masalah banjir tersebut adalah konsep pembangunan arsitektur rumah panggung. Konsep ini tentu sangat membantu mencegah berkurangnya daerah resapan air yang menjadi penyebab banjir, terutama bagi kota-kota di Indonesia yang sangat rawan banjir seperti Jakarta dan Bandung.

Arsitektur rumah panggung memang dirancang untuk pencegahan dan antisipasi. Konsep rumah ini adalah bangunan berkaki untuk menyangga dasar bangunan. Sehingga lantai dasar bangunan tidak menyentuh dengan tanah. Jarak tanah dan lantai bangunan biasanya bervariasi. Biasanya berjarak satu hingga dua meter. Selain mengatasi banjir, konsep rumah ini guna menghindari binatang liar dan dampak gempa.

Menurut Josep Prijotomo (1998) pilihan mengangkat bangunan di atas permukaan tanah bukanlah sekedar mengatasi banjir, menghindari kelembaban atau menghindari hewan buas, melainkan mengandung intensi menjaga ekologis bumi agar tidak rusak oleh pondasi.

Selain itu semakin banyak tanah yang tertutup oleh bangunan akan membuat tanah sukar menyerap air. Hal itu terlihat bahwa serangan banjir setiap tahun tidak terhindarkan karena semakin banyak tanah yang tertutup oleh bangunan-bangunan baru yang menyebabkan air sukar terserap oleh tanah.

Konsep rumah panggung harus dirancang dengan bahan yang ringan. Konstruksi kayu lebih digunakan, karena lebih ringan dibandingkan konstruksi beton. Bahan kayu juga sangat kuat dan telah dibuktikan oleh nenek moyang kita. Berbagai sambungan juga menggunakan kayu, tujuannya guna meminimalisasi dampak gempa.

Sambungan menggunakan kayu terbukti sangat lentur, sehingga saat gempa terjadi bisa bergerak lentur mengikuti gerakan gempa. Keuntungannya, patahan struktur akan terhindar karena konstruksi kayu yang baik. Namun sebenarnya rumah panggung bisa dibuat dari bahan apa saja selain kayu, seperti bambu dan beton.

Ada banyak keuntungan dari pembangunan rumah panggung yang bisa didapatkan, yakni konstruksi rumah panggung didesain sangat tinggi dari tanah, sehingga bencana banjir bisa dihindari. Konstruksi rumah panggung dirancang agar fleksibel terhadap gerakan akibat gempa bumi. Sehingga bangunan rumah tidak mudah roboh dan rusak.

Lalu kolong konstruksi rumah panggung sangat bermanfaat sebagai daerah resapan air yang sangat baik. Juga bisa menerapkan lubang biopori dan menanam berbagai rerumputan. Supaya lingkungan di sekitarnya terlihat semakin asri dan hijau.

Keuntungan lain, suhu udara di dalam rumah tidak terasa begitu panas, karena sirkulasi udara yang terjadi di bawah kolong konstruksi rumah panggung berlangsung sangat baik. Hal ini terjadi karena dasar bangunan tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Kemudian konsep rumah panggung memisahkan dengan tegas zona privat dan publik.

Untuk mengimplementasikan gagasan ini tentunya kita harus bekerja sama dengan perusahaan pengembang perumahan yang ada di Indonesia, baik perusahaan swasta maupun negeri. Agar konsep konstruksi rumah panggung ini dapat diterapkan di banyak daerah rawan banjir di seluruh Indonesia, termasuk seperti di pemukiman pinggir aliran Sungai Bengawan Solo.

Tentunya juga tidak lepas dari peran pemerintah yang bisa dijadikan sarana sosialisasi kepada masyarakat tentang perumahan ini, proyek ini tentunya juga bisa disebut sebagai usaha pelestarian kebudayaan rumah adat bangsa Indonesia.

Banyak sekali manfaat yang akan kita dapat ketika mewujudkan konsep rumah panggung untuk daerah rawan banjir ini. Kebutuhan akan rumah semakin meningkat, tentu kebutuhan ini harus dipenuhi namun tanpa mengganggu kelestarian lingkungan alam kita.

Kita sebagai generasi penerus tinggal mengembangkan kreativitas kita, mengembangkan dan memajukan kebudayaan kita agar bisa bertahan menyesuaikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi zaman saat ini. Semua lapisan masyarakat wajib saling membantu mewujudkan gagasan ini. Dengan terwujudnya gagasan ini, maka kita bisa menjadikan budaya warisan tetap terjaga, lingkungan alam kita tetap lestari, juga kebutuhan akan rumah bisa kita penuhi.