JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Sekelumit Makna Haul

OPINI: Sekelumit Makna Haul

406
BAGIKAN

 

Jamaah dari berbagai daerah mengikuti peringatan wafatnya (Haul) Habib Ali di Mesjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, Selasa 910/02/2015). Acara peringatan wafatnya (Haul) Habib Ali dilaksanakan selama tiga hari 9-11 Februari 2015_Foto_Maksum N F
Jamaah dari berbagai daerah mengikuti peringatan wafatnya (Haul) Habib Ali di Mesjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, Selasa (10/02/2015) | Foto: Joglosemar/Maksum N F

Ajie Najmuddin

Pengajar di SD Ta’mirul Islam Surakarta

 

Beberapa hari ini, tepatnya pada  10-12 Februari 2015 atau bertepatan dengan 19-21 Rabi’ul Akhir 1436 H, Kota Solo kembali disambangi puluhan ribu peziarah (sebutan untuk orang yang berkunjung ke sebuah makam) dari berbagai daerah. Mereka hadir untuk mengikuti acara haul Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi di Masjid Riyadh Pasar Kliwon. Habib Ali merupakan seorang tokoh ulama yang berasal dari Hadramaut, Yaman, yang kemudian salah satu puteranya, Habib Alwi hijrah dan menetap di Kota Solo.

Muncul pemikiran dari penulis, apa gerangan yang menyebabkan mereka rela datang dari jauh ke Solo, hanya untuk berpanas-panasan, berdesak-desakan? Sebagai catatan, berdasarkan penuturan dari salah satu panitia, para peziarah sebagian besar justru datang dari luar daerah. Bahkan, ada pula yang dari luar negeri, seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Yaman.

Mereka tak pernah diberi undangan, tapi dengan setia selalu hadir setiap tahun. Ini tentu sebuah hal yang patut untuk dikaji, bukan hanya dari sisi faktor yang menggerakkan para jemaah untuk hadir di acara tersebut, melainkan juga berbagai dampak positif bagi tempat yang menyelenggarakan peringatan haul.

Bahkan, Pemkot Surakarta pun menjadikan acara haul ini sebagai salah satu unggulan pariwisata Kota Solo dengan konsep wisata religi dan dimasukkan ke dalam event rutinan Kota Solo setiap tahunnya. Meski demikian, banyak pula yang berpendapat, bahwa peringatan haul ini tidak hanya sekadar penting untuk dimasukkan ke dalam agenda wisata kota. Tidak pula sekadar hitungan angka-angka ekonomi atau seremonial belaka, akan tetapi lebih dari itu, peringatan haul ini memiliki segudang makna.

Pengingat Kematian

Fenomena semarak acara haul ini sebetulnya merupakan sebuah hal yang dapat kita temui di beberapa daerah di Indonesia. Ismail F Alatas dalam Journal of Indonesian Islam (2007: 268-276) menyebutkan bahwa tradisi haul menjadi satu acara yang digemari di wilayah Indonesia. Setidaknya, ada puluhan bahkan ratusan acara haul yang diselenggarakan, yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara.

Haul berasal dari bahasa Arab yang berarti setahun. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), haul memiliki makna peringatan hari wafat seseorang yang diadakan setahun sekali (biasanya disertai selamatan arwah). Peringatan haul diadakan dengan tujuan utama mendoakan ahli kubur agar mendapat rahmat dan ampunan dari Allah swt.

Kegiatan haul dalam agama Islam, berdasarkan pada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi ra, Rasulullah saw selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Alquran Surah ar-Ra’d ayat 24, Salamun ‘alaikum bima shabartum fani’ma uqba ad-daar (Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu). Hadist inilah yang menjadi dasar diperbolehkan peringatan haul atau sejenisnya.

Lalu apa pentingnya diadakan sebuah peringatan haul? Penulis mencatat setidaknya ada tiga hal yang bisa kita petik, hikmah dari peringatan haul. Pertama. Acara haul sejatinya sama dengan acara peringatan 3, 7,40 hari atau berapapun, yang pada intinya mengingatkan kita akan kematian (dzikrul maut). Kata “mengingat,” secara logika tentu hanya dapat dilakukan bagi orang yang pernah mengalaminya, sedangkan kita sendiri belum pernah mengalami kematian.

Oleh karena itu, dengan memperingati untuk kemudian mengangen-angen sebuah peristiwa kematian yang telah menimpa pada orang lain, kita menjadi lebih baik dalam memaknai tujuan kehidupan. Bahwa kita semua pasti akan mengalami kematian. Dus, sebagai orang yang beriman, kita meyakini bahwa setelah kematian ada fase lain yang akan menunggu kita. Maka, untuk menghadapinya kita mesti mempersiapkan bekal.

Orang yang mempersiapkan bekal untuk kehidupan kekal inilah yang dikatakan Nabi Muhammad saw. sebagai orang yang cerdas. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani ra di dalam kitabAsh-Shaghir, Nabi saw pernah ditanya oleh seorang sahabat. “Siapakah di antara orang-orang Mukmin yang paling cerdas?”

Rasulullah saw menjawab, “Orang yang paling banyak ingat mati di antara mereka, dan orang yang paling baik persiapannya untuk kehidupan selanjutnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” Orang tersebut dikatakan cerdas, sebab ia tahu dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat merupakan alam yang kekal selamanya. Maka, ia menggunakan kehidupan ini sebagai sarana untuk menanam kebaikan, agar kelak juga dapat memanen kebaikan.

Kebermanfaatan

Pada acara haul, biasanya akan dibacakan sebuah manaqib (riwayat hidup) seseorang. Di dalamnya terdapat banyak keteladanan yang dapat kita ambil. Salah satu teladan tersebut yakni manfaat yang telah mereka berikan untuk orang lain. Seseorang yang diperingati haulnya, menurut Abdul Rozaq Shofawi (2010), dikarenakan telah memberikan banyak jasa kepada agama ataupun masyarakat.

Di dalam lingkup yang paling terkecil sekalipun seperti keluarga, seorang anak akan terus mengingat jasa dari kedua orangtuanya, atau para guru yang dikenang, sebab jasa mereka dalam menyebarkan ilmu kepada para muridnya.

Bahkan, meskipun orang-orang tersebut telah meninggal, masih saja dapat menebar kemanfaatan dan keberkahan untuk orang lain. Lihat saja di berbagai makam Walisongo misalnya, banyak orang yang mendapat cipratan berkah (baik orang yang berjualan, jasa transportasi dan sebagainya) dari para aulia tersebut.

Tentunya, para wali tadi hanya menjadi wasilah (sarana) datangnya rezeki, yang diberikan Allah swt. Namun, hal tersebut seperti menjadi sebuah pembenaran pada sebuah syair yang tertulis kitab alala Akhu al-‘ilmi chayyun kholidun ba’da mautihi.

Para ulama mereka tetap “hidup”(nama dan jasanya tetap dikenang) meskipun mereka telah wafat. Sedangkan orang bodoh yang hidupnya senantiasa merugikan orang lain, ia dianggap telah “mati,” meskipun jasadnya masih hidup.

Ketiga. Peringatan haul dapat mempersatukan sebuah kaum. Seperti yang terlihat pada haul Habib Ali, masyarakat dari berbagai lapisan duduk bersama dalam sebuah majelis, mereka makan dengan lahap dalam satu nampan bersama; tak peduli kaya-miskin, tua-muda, alim-awam. Mereka juga berasal dari berbagai suku daerah yang berbeda-beda; Jawa, Madura, Banjar, Arab, Tionghoa, Sunda, Betawi dan sebagainya. Kerukunan inilah yang tak ternilai harganya. Demikian.