JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pangdam Ingin Hukuman Mati untuk Tentara yang Jual Peluru ke Pemberontak

Pangdam Ingin Hukuman Mati untuk Tentara yang Jual Peluru ke Pemberontak

268
BAGIKAN

 

ilustrasi
ilustrasi

JAYAPURA  – Panglima Kodam XII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen G Siahaan mengatakan lima anggota TNI terancam dipecat setelah terbukti menjual amunisi kepada Kelompok Sipil Bersenjata (KSB).

“Saya masih melakukan penyelidikan terus. Tadi saya sudah tanya bahwa lima anggota itu benar-benar sudah terbukti, dan sudah di POM dan lanjut ke pengadilan militer,” katanya usai menghadiri pertemuan dengan Forkompimda, tokoh adat, dan cendekiawan Papua di Mapolda Papua, Kota Jayapura, Kamis (12/2/2015).

“Tapi saya juga secara administrasi jalan yaitu PTDH, pemberhentian tidak dengan hormat. Nanti di jalan terus apa hukumannya, saya menyarankan hukuman paling berat (mati)  atau mungkin karena pertimbangan anak dan istri mungkin hukuman seumur hidup, tapi dipecat,” lanjutnya.

Menurutnya kelima oknum anggota tersebut adalah duri dalam tubuh TNI sehingga apa yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Saya tidak butuh prajurit-prajurit saya sebagai duri dalam tubuh kami (TNI),” katanya.

Ketika disinggung apakah dalam penjualan amunisi itu ada keterlibatan perwira, Fransen menyampaikan jika hal itu sedang diselidiki.

“Saya lagi membongkar semua. Jadi, tidak ada istilah toleransi, siapa pun akan saya hantam karena bagaimanapun ini, dia kan menyuruh orang lain menembak saya nih, menembak kita semua,” katanya.

“Coba prajurit saya menjual amunisi, menembak panglima, bukan main. Berarti dia itu kan musuh saya, saya hantam juga dia,” tambahnya.

Fransen mengaku tidak segan-segan untuk menindak bawahannya yang terbukti melawan hukum, apalagi menjual amunisi.

“Saya hantam dia juga, saya senang ini terbongkar. Saya tidak malu, kan saya sudah katakan itu,” katanya.

Mengenai motif dari menjual amunisi, Fransen mengemukakan bahwa alasan para oknum prajurit itu sebenarnya karena faktor ekonomi.

“Ini sebenarnya hanya kepentingan bisnis murni, faktor ekonomi,” katanya.

Ketika ditanya apakah gaji yang diterima oleh para oknum prajurit itu tidak mencukupi, Fransen menjawab,”Cukup sebenarnya. Tetapi karena apa itu? Gaya hidupnya, istrinya ada di Jawa sana, kan begitu. Berarti ada dua dapur, dia hidup di sini mahal tapi ada anaknya sekolah di Jawa, ada isrinya di sana,” jawabnnya.

Fransen menegaskan bahwa proses PTDH sedang berjalan termasuk bagi tiga oknum TNI yang beberapa waktu lalu terlibat menjual amunisi di Wamena, Kabupaten Jayapura.

“PTDH sudah berjalan, semua di PTDH termasuk yang tiga terdahulu di Wamena, ada yang sudah MPP, pensiun dan masih aktif. Yang aktif di-PTDH juga, jadi itu yah, saya tindak tegas,” katanya.

Sebelumnya, pada akhir Januari 2015 lima prajurit yang bertugas di Ajudan Jenderal (Ajen) Kodam XVII/Cenderawasih ditangkap petugas gabungan TNI dan Polri karena menjual amunisi kepada kelompok KSB pimpinan Porum Wenda.

Kelima oknum prajurit itu berinisial Sertu MM (46), Sertu NHS (24), Pratu S (27), Pratu RA (29), dan Serma S (39).

Antara | Alfian Rumagit