JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pantai Gunung Kidul Aman dari Pencurian Ikan

Pantai Gunung Kidul Aman dari Pencurian Ikan

255
BAGIKAN

 

Kapal nelayan asing ditenggelamkan di wilayah Laut Natuna, Anambas, Kepri, Jumat (5/12). Sebanyak tiga kapal milik nelayan asal Vietnam yang tertangkap sedang mencuri ikan ditenggelamkan dengan cara diledakkan oleh personil Pasukan Katak TNI AL. ANTARA FOTO/Joko Sulistyo
Kapal nelayan asing ditenggelamkan di wilayah Laut Natuna, Anambas, Kepri, Jumat (5/12). Sebanyak tiga kapal milik nelayan asal Vietnam yang tertangkap sedang mencuri ikan ditenggelamkan dengan cara diledakkan oleh personil Pasukan Katak TNI AL. ANTARA FOTO/Joko Sulistyo

GUNUNG KIDUL –  Dinas Kelautan dan Perikanan bersama Satuan Polisi Air Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengintensifkan pengawasan kawasan pantai mengantisipasi pencurian ikan di wilayah itu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul Agus Priyanto di Gunung Kidul, Minggu (1/2/2015) mengatakan wilayah Gunung Kidul masih aman dari pencurian ikan, namun demikian pihaknya tetap akan melakukan pengawasan.

“Laporan petugas lapangan belum menunjukkan ada pencurian ikan,” kata Agus.

Ia mengatakan jenis pencurian ikan ada dua kategori yakni kapal asing dan nelayan yang menggunakan kapal yang tidak berizin.

Agus menilai kecil kemungkinan pencurian oleh kapal asing. Hal ini karena kondisi geografis pantai selatan yang memiliki ketinggian gelombang yang tergolong ekstrem.

“Kapal asing yang masuk ke pantai selatan harus memiliki peralatan canggih. Karena itu kecil kemungkinan kapal asing mencuri ikan di perairan pantai selatan,” kata dia.

Dia berharap pemberian izin pengoperasian kapal semakin dipermudah. Selama ini pengurusan izin harus ke Pantura atau Cilacap (Jawa Tengah).

“Ke depan untuk pengurusan izin nelayan lokal kami berharap bisa dipermudah,” katanya.

Sementara itu, Kasat Polair Gunung Kidul AKP Iriyanto mengatakan dalam melakukan pengawasan wilayah selatan, pihaknya dilengkapi dua kapal patroli.

“Kami menyiapkan dua kapal patroli, namun memang ada kendalanya yakni tidak bisa sampai ke tengah,” katanya.

Dia mengatakan patroli laut memiliki tingkat kesulitan sendiri dibandingkan dengan darat. Patroli laut memerlukan persiapan khusus.

“Untuk patroli laut diperlukan kesiapan yang matang seperti kondisi laut dan kapal itu sendiri,” kata Iriyanto.

Iriyanto mengatakan ada tiga faktor yang membuat pengawasan masih terbatas yakni standardisasi kapal patroli, kapasitas bahan bakar hingga kebutuhan perlengkapan teknologi kekinian.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pihaknya melakukan upaya di antaranya memanfaatkan informasi nelayan.

“Untuk kapal memang belum maksimal, kapsitas bensin 750 liter dan kami mengisi maksimal 600 liter. Dengan keterbatasan tersebut kita tidak bisa berlayar jauh,” katanya.

Dia mengatakan patroli yang selama ini dilakukan mencapai 12 mil melebihi kewenangan seharusnya yakni 4 mil. “Untuk keamanan kami berani lebih jauh,” katanya.

Antara | Sutarmi