JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pariwisata di Indonesia Ditargetkan Sedot 13 Juta Tenaga Kerja

Pariwisata di Indonesia Ditargetkan Sedot 13 Juta Tenaga Kerja

234
BAGIKAN
ISI LIBURAN - Pengunjung tengah bermain air di kawasan OMAC, Kamis (26/12). OMAC menjadi salah satu destinasi wisata di Klaten. Joglosemar/Angga Purnama
ISI LIBURAN – Pengunjung tengah bermain air di kawasan OMAC, Kamis (26/12). OMAC menjadi salah satu destinasi wisata di Klaten. Joglosemar/Angga Purnama

BATAM– Kementerian Pariwisata menargetkan sektor industri pariwisata akan menyerap sebanyak 13 juta tenaga kerja pada 2019.

Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika menjadi pembicara pada acara ASEAN Summit for State-Owned Enterprises and Media di Batam, Jumat (6/2/2015), mengatakan industri pariwisata Indonesia pada 2014 telah menyerap sekitar 8,7 juta tenaga kerja dan menyumbang empat persen PDitDB.

Sementara pada 2019, pemerintah menargetkan industri pariwisata menyerap sekitar 13 juta tenaga kerja.

“Sehingga akan ada empat juta lapangan kerja baru,” kata Menpar Arief Yahya.

Industri pariwisata yang saat ini menjadi penyumbang PDB terbesar keempat bagi negara setelah minyak dan gas, batu bara dan minyak kelapa sawit, diproyeksikan akan menunjukkan tren yang meningkat hingga bisa mengungguli ketiga komoditas utama tersebut pada 2019.

Oleh karena itu, Arief juga optimis pemerintah bisa mendatangkan 20 juta turis mancanegara dan pergerakan turis domestik sebesar 275 turis pada 2019.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2014 mencapai 9.435.411 atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan dengan tahun 2013 yang sebanyak 8.802.129 wisman.

Dengan angka pertumbuhan tersebut, Arief mengatakan industri pariwisata Indonesia sudah “sustainable” atau terus tumbuh karena lebih tinggi dari angka rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia sebesar 4,7 persen.

“Namun belum cukup kompetitif,” kata Arief.

Agar kompetitif, pertumbuhan industri pariwisata indonesia harus mendekati kompetitor terdekatnya di regional ASEAN. Sebagai contohnya adalah negara Malaysia yang pertumbuhan industri pariwisatanya tertinggi di Asia Tenggara yaitu mencapai 9,6 persen.

Jumlah wisman yang mengunjungi Malaysia bertambah dari 20,9 juta pada 2013 menjadi 22,9 juta wisman pada tahun berikutnya.

Sementara Thailand mengalami penurunan sebesar 6,7 persen dari 26,5 juta wisman pada 2013 menjadi 24,8 wisman pada 2014.

Untuk mewujudkan target wisman pada 2019, tidak cukup hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, namun juga upaya yang harus dilakukan antara lain memperbaiki infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT (Information and Communication Technology), kebersihan dan higienitas serta mempermudah akses dan konektivitas ke daerah tujuan wisata, kata Arief.

Perbaikan infrastruktur diharapkan sekaligus akan mendongkrak daya saing pariwisata Indonesia di tataran global yang saat ini berada di ranking 70 ke ranking 30 dunia pada 2019 nanti.

ANTARA