JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Paru Obstruktif Kronik, Penyakit Mematikan Karena Rokok

Paru Obstruktif Kronik, Penyakit Mematikan Karena Rokok

274
BAGIKAN
Ilustrasi: dok soloblitz
Ilustrasi: dok soloblitz

PENYAKIT Paru Obstruktif  Kronik (PPOK) atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan salah satu gangguan pernafasan yang semakin sering dijumpai di masa mendatang di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kian bertambahnya jumlah perokok serta polusi udara.

Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu Surakarta, dr Novita Tjahyaningsih SpP mengatakan, PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat bila tidak diobati akan tambah berat dan tidak bisa kembali lagi. PPOK terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema atau gabungan keduanya.

“Bronkitis kronis adalah kelainan saluran nafas yang ditandai dengan batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut, tidak disebabkan penyakit lainnya. Lalu emfisema adalah kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal disertai kerusakan dinding dinding alveoli.

Dijelaskannya, kebiasaan merokok merupakan satu-satunya penyebab utama dari penyakit ini. Lalu penyebab lain seperti riwayat terpajan polusi udara baik dari lingkungan atau tempat kerja. “Riwayat infeksi saluran nafas bawah berulang, jenis kelamin laki-laki dan ras kulit putih lebih berisiko terserang PPOK, “ ucapnya.

Novita menjelaskan gejala dan tanda PPOK bervariasi mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga gejala berat. Dikatakannya, pemeriksaan fisik pasien PPOK dini umumnya tak ditemukan kelainan. Bila diamati pada pasien PPOK, sering melakukan purse lips breathing yaitu sikap seseorang yang bernafas dengan mulut mencucu dan pengeluaran nafas yang memanjang.

“Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan tumpukan karbondioksida yang terjadi pada gagal nafas kronik. Bila diamati, kondisi fisik pasien PPOK akan terlihat sering menggunakan otot bantu nafas, sehingga otot bantu nafas mengalami hipertrofi, pelebaran sela iga, dan bila sudah terjadi gagal jantung akan terlihat denyut vena jugularis dan bengkak kaki.

Dwi Hastuti