JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pemkab Boyolali Nilai Kenaikan Harga Beras Masih Wajar, Tak Perlu Operasi Pasar

Pemkab Boyolali Nilai Kenaikan Harga Beras Masih Wajar, Tak Perlu Operasi Pasar

343
BAGIKAN

 

ilustrasi
ilustrasi | dok.Joglosemar

BOYOLALI – Meski harga beras sudah meroket, naik hingga Rp50 ribu per sak ukuran 25 kilogram, namun Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali menyatakan belum saatnya untuk melakukan operasi pasar.

Kenaikan harga beras terjadi di semua jenis sejak dua pekan terakhir. Saat ini pantauan di Pasar Kota Boyolali harga beras menthik dan bramo biasanya Rp230 ribu per sak, naik menjadi Rp280 ribu. Sedangkan beras jenis IR 64, yang semula Rp195 ribu naik menjadi Rp250 ribu.

Ny. Hendra (40), salah satu pedagang menyebutkan, kenaikan ini berlangsung bertahap. Rata-rata kenaikan Rp3 ribu tiap harinya. “Total rata-rata kenaikan antara Rp30 ribu-Rp50 ribu sejak dua pekan kemarin,” tutur Ny. Hendra, Jumat (27/2/2015).

Kenaikan ini menurut dia, disinyalir karena sejumlah daerah penghasil padi di Jateng mengalami gagal panen dan keterlambatan musim panen. Sehingga pasokan beras pun terbatas. Kondisi ini diperparah dengan tingginya permintaan beras dari Jakarta pascabanjir.

Sementara, menyikapi kenaikan harga beras belakangan ini, Disperindag belum menyatakan perlu melakukan operasi pasar. Menurut Kabid Perdagangan Disperindag Boyolali, Yohanes Suprianto, pihaknya sampai saat ini terus melakukan pantauan fluktuasi harga beras di pasaran. Pantauan di antaranya dilakukan di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Ampel, Pasar Kota Boyolali, Pasar Cepogo, dan Pasar Pengging.

Dijelaskannya, meski harga beras mengalami kenaikan, namun tidak ada masalah dengan stok beras. Menurut dia, kenaikan harga beras hanya dikarenakan adanya keterlambatan panen di tingkat petani. Selain itu menurut dia, kenaikan harga beras di Boyolali sejauh ini masih berada di batas kewajaran.

Ario Bhawono