JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Penderita HIV-AIDS Di Klaten Cenderung Meningkat

Penderita HIV-AIDS Di Klaten Cenderung Meningkat

382
BAGIKAN

ilustrasi

KLATEN – Jumlah warga Klaten yang terjangkit Human Immuno Deficiency Virus and Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV-AIDS), cenderung mengalami peningkatan. Dari temuan Komisi Pemberantasan HIV AIDS (KPA) Klaten dari tahun 2007 hingga kini, terdapat  271 penderita HIV-ADIS.

Puncaknya terjadi pada tahun 2014  lalu yang mencapai 92 kasus. Pada awal tahun 2015 sendiri, temuan penderita HIV Aids telah mencapai sembilan orang. Pertama kali kasus ditemukan pada 2007, hanya enam ada penderita. Sementara pada tahun 2011 meroket menjadi 23 kasus, berlanjut dengan 41 orang pada 2012, dan 74 di tahun 2013.

Dilihat dari prosentase jenis kelamin penderita, 66 persen atau 180 orang adalah laki-laki, sisanya perempuan. Untuk penderita HIV mencapai 149 sedangkan, 122 diantaranya telah memasuki fase Aids. Sementara 34 lainnya tercatat meninggal dunia. Adapun, penularan virus tersebut hampir 94 persen atau 260 kasus di Klaten, ditularkan melalui hubungan seks tidak aman.

Staf KPA Klaten Amin Bagus Panutan menyebut dari jumlah tersebut sebagian besar didominasi oleh usia produktif. Rentang usia penderita yang paling banyak menderita adalah 30-34 tahun dengan 52 penderita, disusul mereka yang berusia 35-39 tahunsebanyak 47 orang. Diurutan ketiga dengan 46 penderita berumur 25-29 tahun.

Amin menyebut, fenomena ini memprihatinkan karena kebanyakan dari mereka tidak sadar telah terjangkit virus tersebut.

“Mereka umumnya baru memeriksakan kesehatan ketika keadaan tubuh mereka diserang diare yang tidak kunjung sembuh. Sedangkan dari pertama kali tertular, hingga terdapat tanda-tanda penyakit biasanya memakan waktu dari lima sampai sepuluh tahun. Jika mereka terkena pada usia 25, bisa jadi mereka tertular pada usia yang masih muda,”urainya Jumat (13/02).

Ia melanjutkan, sebagian penderita adalah mereka yang telah memiliki pekerjaan. Hal itu menurutnya karena kontrol diri yang kurang baik. “Dengan pendapatan yang didapatkan mereka kemudian jajan, dari catatan kami ada sekitar 80 orang buruh yang terjangkit,” imbuh Amin.

Fakta selanjutnya adalah, kalangan ibu rumah tangga (IRT) dan balita yang tertular cukup tinggi. Catatan KPA Klaten, IRT berjumlah 30 orang. Sedangkan balita mencapai 13 penderita. Menurut Amin, hal ini cukup memprihatinkan, karena jika dibandingkan dengan penderita dari Wanita Pekerja Seks (wps), angkanya sangat jauh.

“Kalau WPS hanya lima orang yang terjangkit. Inilah yang membuat miris, pengetahuan ibu rumah tangga sangatlah kurang terhadap virus ini. sehingga akibatnya mereka menularkan pada anak mereka,”pungkasnya.

Dani Prima