JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pengasapan Bukan Solusi Atasi Demam Berdarah

Pengasapan Bukan Solusi Atasi Demam Berdarah

274
BAGIKAN
Petugas melakukan fogging untuk menekan penyebaran nyamuk Aides Aegypti, Kamis (15/01/2015) di Kampung Clolo Kadipiro Banjarsari Surakarta_Foto_Maksum N F
Petugas melakukan fogging untuk menekan penyebaran nyamuk Aides Aegypti, Kamis (15/01/2015) di Kampung Clolo Kadipiro Banjarsari Surakarta_Foto_Maksum N F

SUKOHARJO – Jurus jitu mengantisipasi mengganasnya serangan nyamuk aedes aegypti , masyarakat harus membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Bejo Raharjo mengatakan sosialisasi terkait PHBS dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tidak kurang-kurang. Hanya saja, sejauh ini kesadaran masyarakat untuk membiasakan PHBS masih rendah.

Indikasi rendahnya penerapan PHBS, kata Bejo, dapat dilihat dari nilai Angkabebas Jentik (ABJ). Semakin rendah angka ABJ, maka potensi serangan DBD semakin tinggi. Terlebih satu ekor nyamuk bisa bertelor ada “Kalau sudah di fogging, tapi ABJ nya masih rendah, masyarakat belum sepenuhnya menerapkan PHBS dan pemberantasan sarang nyamuk,” katanya, Kamis (12/2/2015).

Diterangkan, berdasarkan tujuh daerah yang telah di fogging atau penyemprotan, masih saja ada wilayah yang ABJ-nya masih rendah. Hanya ABJ di kecamatan Nguter yang mencapai 100 persen dari angka sebelumnya yang hanya 20 persen. Sejauh ini tercatat enam kecamatan yang potensial DBB. Yakni Kecamatan Weru, Bulu, Bendosari, Grogol, Gatak dan Kartasura.

Bejo merinci, pasca di fogging ABJ di Kecamatan Weru justru menurun dari angka 60 persen menjadi 50 persen, Kecamatan Bulu dari 80 persen turun jadi 60 persen, Bendosari tetap di angka 85 persen, gatak menurun dari angka 67 persen menjadi 63 persen.

Sedangkan ABJ di kecamatan Grogol meningkat dari 70 persen menjadi 85 persen dan Kartasura 65 persen menjadi 80 persen. Padahal secara nasional, angka bebas jentik harus lebih dari 95 persen. “Kalau ABJ masih dibawah 95 persen, daerah itu potensial DBD,” tandasnya.

Kepala DKK Sukoharjo, Guntur Subyantoro menambahkan, perkembangan nyamuk cenderung meningkat jika intensitas hujan tidak teratur. Untuk itu, warga dihimbau gencar menerapkan PSN dan PHBS. “Kalau hujan crat-cret (tidak teratur) akan menimbulkan genangan. Sehingga nyamuk bisa berkembang cepat. Kalau curah hujan tinggi justru malah tidak,” katanya.

Sofarudin