JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Perokok Lebih Berisiko Alami Depresi

Perokok Lebih Berisiko Alami Depresi

229
BAGIKAN
Ilustrasi: dok soloblitz
Ilustrasi: dok soloblitz

SEBUAH penelitian mengungkapkan 70 persen perokok lebih mudah mengalami depresi dan cepat merasa cemas dibanding dengan mereka yang tidak merokok.

Berhenti merokok merupakan solusi jitu untuk memerangi kondisi tersebut, selain itu juga menjaga kesehatan mental. Tingkat depresi dan kecemasan yang timbul antara perokok dan mereka yang tidak merokok jelas berbeda.

Dailymail melansir alam penelitian yang dilakukan pada 6.500 orang yang berusia lebih dari 40 tahun ditemukan sekitar 18,3 persen dari mereka yang merokok sering mengalami depresi dan rasa cemas berlebihan. Para ahli juga menyayangkan presepsi kebanyakan orang bahwa merokok dapat mengurangi stres.

“Penelitian yang kami lakukan menemukan efek jangka panjang dari merokok ialah rentan mengalami depresi dan rasa cemas yang berlebih. Hal ini berbeda dengan mereka yang tidak merokok,” kata Robert West profesor psikologi kesehatan University College London (UCL).

The British Heart Foundation (BHF) merilis para perokok memiliki kepercayaan merokok dapat mengurangi rasa stres dan cemas, hal itu yang menyebabkan para perokok enggan berhenti.

“Alih- alih membuat orang tenang dan rileks, merokok justru meningkatkan ketegangan dan kecemasan,” kata Dr Mike Knapton yang merupakan direktur asosiasi di bidang amal.

“Ketika merokok akan timbul perasaan rileks dan stres berkurang, tetapi itu hanya efek sementara dan efeknya justru membuat orang ingin melakukannya lagi,” sambungnya.

Baya Arya Putra