JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Perompak Somalia Bebaskan Empat Nelayan Thailand setelah 4 Tahun

Perompak Somalia Bebaskan Empat Nelayan Thailand setelah 4 Tahun

305
BAGIKAN

BOMB-SOMALIANAIROBI – Empat nelayan Thailand, yang disandera perompak Somalia hampir lima tahun, dibebaskan, kata pejabat setempat, Jumat (27/2/2015).

“Kami menjemput keempat lelaki warga Thailand itu dari kawasan terpencil,” kata pejabat daerah Galmudug tengah, Somalia, Omar Sheikh Ali.

Keempat nelayan itu adalah bagian dari 24 kru kapal yang disita pada April 2010 saat bajak laut merompak kapal ikan berbendera Taiwan FV Prantalay 12.

Penyanderaan mereka selama hampir lima tahun merupakan penderitaan terlama yang dialami oleh korban-korban perompakan Somalia.

Ali mengatakan mereka bisa menghubungi keluarga masing-masing tak lama setelah dibebaskan pada Rabu.

“Mereka menelpon keluarga mereka, serta menangis, menangis, dan menangis,” katanya.

Penduduk Galkayo yang merupakan pusat pemerintahan Galmudug mengatakan, uang tebusan sebesar 150 ribu dolar AS dibayarkan kepada para perompak namun informasi tersebut belum bisa diverifikasi kebenarannya.

“Para perompak lelah memberi makan dan merawat para sandera, mereka meminjam uang dalam jumlah besar,” kata Mohamed Abdi, seorang pengusaha di Galkayo yang dekat dengan upaya negosiasi.

Setelah jatuh ke tangan perompak, kapal FV Prantalay dijadikan kapal induk untuk melancarkan serangan yang jauh sebelum kapal itu tenggelam pada Juli 2011 dan para krunya terdampar.

Dari awalnya 24 kru kapal, enam diantaranya meninggal karena sakit selama disandera.

Sebanyak 14 awak lain dari Myanmar diserahkan kepada pemerintah di Puntland, kawasan utara Somalia pada Mei 2011 dan dipulangkan oleh Program Dukungan Sandera Kantor PBB untuk Narkotika dan Kejahatan (UNODC).

Masih 26 sandera berada di tangan perompak Somalia.

Pembajakan di luar pantai Somalia mencapai puncaknya pada 2011, dimana saat itu terjadi 237 insiden terkait aksi bajak laut Somalia dan 28 kapal yang dirompak.

Namun, keberadaan petugas bersenjata di atas kapal serta patroli laut internasional memberikan pengaruh besar dan pada 2014 tercatat tidak ada satupun aksi pembajakan yang berhasil, demikian dilaporkan Biro Maritim Internasional yang mencatat insiden pembajakan di seluruh dunia.

Antara