JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Polsek Sambirejo Tangkap Sindikat Penjarah Kayu

Polsek Sambirejo Tangkap Sindikat Penjarah Kayu

599
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN– Tim Polsek Sambirejo berhasil membongkar sindikat penjarah dan pelaku ilegal loging di kawasan hutan lindung Suaka Margasatwa Gunung Tunggangan di Sambirejo milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Solo. Dari sindikat ini, tim berhasil mengamankan dua orang tersangka penebang dan penyimpan kayu serta mengamankan sedikitnya 18 gelondongan kayu Sonokeling.
Pelaku yang diamankan masing-masing penebang kayu, Sukarman (45) dan penyimpan kayu curian, Paimin (53), keduanya warga Dukuh Bayanan, Desa Jambeyan, Sambirejo. Selain keduanya, tim kini juga memburu salah seorang pengusaha mebel berinisial SG warga Jambeyan yang diduga menjadi penadah kayu-kayu curian dari kedua pelaku.
Keduanya diamankan dalam sebuah operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh tim Polsek Sambirejo, Selasa (10/2) dinihari. Dalam operasi yang dipimpin langsung Kapolsek AKP Kabar bandiyanto itu, tim pertama kali mengamankan Sukarman yang bertugas menjual kayu curian ke rumah SG sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelum ditangkap, pelaku sudah terlebih dahulu dikuntit dan diintai oleh tim sejak pukul 22.00 WIB.
“Awalnya ada informasi warga lalu kita lakukan pengintaian. Sekitar pukul 22.00 WIB, Sukarman lewat dengan sepeda motor membawa kayu curian ke rumah SG. Kita biarkan dulu karena untuk memastikan dimana dia menjualnya. Lalu dia balik lagi ambil kayu dan yang kedua kali itu langsung kami tangkap saat ia melintasi di jalan dekat Waduk Bayut, Jambeyan,” papar AKP Kabar, Selasa (10/2/2015).
Dari keterangan pelaku, kemudian menggiring aparat untuk mengamankan Paimin (53) yang oleh Sukarman disebut sebagai pemilik dan penyimpan kayu-kayu yang dicuri dari kawasan hutan lindung SM Gunung Tunggangan. Dari hasil penggeledahan, di rumah Paimin ditemukan 12 gelondong kayu Sonokeling sehingga total barang bukti yang diamankan ada 18 gelondong kayu berukuran diameter 40 sentimeter dengan panjang antara 70-80 sentimeter. Sayangnya, saat akan ditangkap, SG yang diketahui sebagai pengusaha mebel itu sudah kabur.
“Keduanya akan kami jerat dengan UU NO.18/2013 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun denda Rp 1,5 miliar. Saat ini kami masih melakukan pengejaran terhasap SG dan kelihatannya memang ini sebuah jaringan. Jadi ada yang menebang, menyimpan dan membelinya,” jelasnya.
Sementara, petugas Polisi Hutan (Polhut) BKSDA Gunung Tunggangan, Sularno mengatakan pencurian pohon langka di kawasan hutan lindung Gunung Tunggangan memang beberapa kali terjadi. Menurutnya, luasnya lahan hutan lindung yang mencapai 102 hektare dengan hanya ada 3 personel Polhut adalah salah satu faktor yang dimanfaatkan pencuri. Dari catatannya, para pelaku biasanya tidak jauh dari warga sekitar dengan modus mayoritas karena desakan ekonomi.
“Untuk kerugian belum bisa kami taksir. Karena kayu Sonokeling itu jenis langka dan harganya mahal,” jelasnya.
Wardoyo