JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Presiden Merasa Dibohongi Soal Data Penduduk Miskin

Presiden Merasa Dibohongi Soal Data Penduduk Miskin

307
BAGIKAN
PEMBAGIAN SEMBAKO-Ratusan warga rela antre dan berdesak-desakan saat pembagian sembako di kantor Kecamatan Laweyan, Selasa (30/7). Pemkot Surakarta melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Surakarta menggelar kegiatan sosial dengan membagi sebanyak 2000 paket sembako yang ditujukan untuk warga miskin di kecamatan bersangkutan jelang Hari Raya Lebaran. Joglosemar/Yuhan Perdana
PEMBAGIAN SEMBAKO-Ratusan warga rela antre dan berdesak-desakan saat pembagian sembako di kantor Kecamatan Laweyan, Selasa (30/7). Pemkot Surakarta melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Surakarta menggelar kegiatan sosial dengan membagi sebanyak 2000 paket sembako yang ditujukan untuk warga miskin di kecamatan bersangkutan jelang Hari Raya Lebaran. Joglosemar/Yuhan Perdana

SOLO– Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan tidak mempercayai data jumlah penduduk miskin sekarang karena sering tidak mencerminkan fakta di lapangan.

“Saya ingin bicara fakta. Realitas yang ada. Ini fakta yang ingin saya sampaikan tentang jumlah penduduk miskin di negara kita. Katanya, penduduk miskin kita 11 persen, 28 juta orang kira-kira. Tapi fakta-fakta yang saya temui di lapangan sedikit agak tidak percaya,” kata Jokowi dalam acara Munas II Partai Hanura di Solo, Jumat (13/2/2015) malam.

Ia mengatakan banyak pihak sering membuat kategori miskin yang bermacam-macam sehingga terkesan menutup-nutupi fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Presiden menginginkan data kemiskinan yang lebih jelas dan tegas.

“Kita ini sering agak ditutup-tutupi, harusnya yang jelas-jelas saja. Saya ingin yang jelas. Di Indonesia miskin itu ada macam-macam kategorinya, saya tidak percaya,” katanya.

Menurut dia, sering ada kategorisasi miskin yang dibuat misalnya miskin, rentan miskin, hingga diduga miskin.

“Di Jakarta misalnya 3,8 persen miskin tapi ada 37 persen rentan miskin. Saya tidak tahu bedanya antara miskin dan rentan miskin. Tapi kalau dijumlahkan semuanya 41 persen, itu menurut saya faktanya,” katanya.

Oleh karena itu ia menekankan pentingnya mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi termasuk investasi yang harus berkembang agar pengangguran bisa terserap.

ANTARA