JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Sang Proklamator Menyapa lewat Pancasila

Sang Proklamator Menyapa lewat Pancasila

218
BAGIKAN

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri memberikan pengarahan kepada kader partai sekaligus menandatangani prasasti patung Ir. Soekarno, Jumat (13/02/2015) di Kantor DPC PDIP Kota Solo_Foto_Maksum N F

TENDA  merah putih terpasang megah di pelataran Sekretariat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Surakarta, Jumat (13/2/2015). Kursi-kursi juga sudah tertata rapi sejak pukul 10.00.

Hari itu menjadi istimewa karena Megawati Soekarnoputri, yang merupakan puteri Proklamator RI Bung Karno hadir di lokasi tersebut. Bukan tanpa alasan, Mega khusus datang untuk meresmikan Patung Sang Proklamator yang berdiri tegap di pelataran kantor partai tersebut. Peresmian tersebut juga bertepatan dengan ulang tahun Ketua DPC FX Hadi Rudyatmo (Rudy) yang ke-55.

Ketua Umum PDIP itu hadir bersama Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Sekjen PDIP Eriko Sotarduga dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Tengah Heru Sudjatmoko. Dia juga didampingi  Rudy dan Wakil Walikota Achmad Purnomo. Kedatangannya ke DPC itu membawa memori sendiri bagi Mega.

“DPC Solo ini adalah salah satu DPC yang cukup aktif dan ramai. Bahkan sejak kita masih berangkat dari PDI. Kalau saya diajak cerita soal masa-masa itu, bisa satu hari satu malam,” katanya sambil tersenyum.

Patung setinggi 3,5 meter itu ditempatkan dalam panggung kecil dihiasi taman. Di bagian belakang juga dihiasai dinding batu. Total tingginya mencapai 5,5 meter. Butuh anggaran setidaknya Rp 400 juta untuk mewujudkannya.

Adalah Nur Khasani (50) yang telah menghasilkan karya indah tersebut. Patung berbahan semen itu dibuatnya selama 2,5 bulan. Pembuatannya sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, namun baru bisa diresmikan tahun ini.

“Bahannya semen, namun difinishing dengan cat berwarna logam. Tidak ada kendala, karena memang ini pekerjaan yang sudah saya tekuni sejak 1987,” tuturnya.

Untuk menampilkan sosok Presiden Pertama RI itu, Nur mengandalkan foto yang sudah dipilih dari DPC. Keahliannya pun sudah dipajang di sejumlah ruang publik. Seperti Patung Bung Karno yang terpasang di DPC Boyolali, patung dokter Oen, serta kereta kencana di Kawasan Manahan, Banjarsari.

“Khusus untuk Patung Sang Proklamator ini, ada beberapa foto yang disiapkan. Setelah DPC menentukan, saya tinggal mencontohnya.  Gaya busananya, gerak tangannya dan lainnya secara detil,” kata warga RT 1 RW XXXVI Mipitan, Mojosongo, Jebres itu.

Dia tak bekerja sendiri. Ada Alfons Suwidyo yang berprofesi sebagai desainer interior. Pria yang akrab disapa Widyo itu kebagian mempercantik tampilan patung di lokasi itu.

“Awalnya lokasinya lebih ke barat, namun ternyata posisinya membelakangi mihrab di masjid DPC. Jadi, kami geser dulu. Taman-taman di sekitarnya juga masih perlu ditambah lagi,” kata dia.

Widyo juga mengatakan, pose yang dipilih adalah saat Bung Karno mengangkat dan membuka lima jarinya. Bukan pose saat berpidato sambil mengacungkan telunjuknya.

“Kami diskusi dengan Pak Kasno (Wakil Ketua DPC PDIP), Pak Rudy (FX Hadi Rudyatmo) dan pengurus lainnya. Akhirnya disepakati yang itu, dengan makna lima jari itu adalah Pancasila. Selain itu, gestur itu menandakan sepeti orang menyapa, bukan memerintah,” tuturnya.

Dini Tri Winaryani