JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Sekda Sragen: Hentikan Teror dan Provokasi Seputar Merger SDN Mojo

Sekda Sragen: Hentikan Teror dan Provokasi Seputar Merger SDN Mojo

688
BAGIKAN

 

Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN – Sekda Sragen, Tatag Prabawanto dan Kepala Dinas Pendidikan Moh. Sauman mengatakan aksi demo dengan memperalat puluhan siswa SDN 5 Sragen untuk menolak penggabungan (merger) SDN 5,8 dan SDN Mojo tidak akan berpengaruh terhadap proses merger yang sudah ditetapkan sejak lama.

Mereka justru meminta semua pihak baik wali murid maupun aktor intelektual dibalik demo itu untuk segera menghentikan provokasi dan teror demi kondusivitas serta nasib belajar mengajar anak-anak ketiga SD tersebut.

“Secara logika kalau tidak ada aktor intelektual yang menggerakkan, enggak mungkin anak-anak sekecil itu sampai berdemo. Apalagi mereka bawa spanduk. Kami tidak akan mengusut siapa aktornya, tapi hanya minta kesadaran wali murid dan semua pihak agar menghentikan teror dan demo. Kasihan anak-anak yang akan jadi korban,” papar Tatag, Jumat (27/2).

Ia meminta wali murid, guru maupun karyawan untuk menanggalkan pola pikir parsial atau merasa paling sehingga memandang rendah SDN lain yang berada di kompleks itu. Selain mengganggu kondusivitas, hal itu juga dikhawatirkan justru mengancam efektivitas belajar mengajar yang pada akhirnya merugikan nasib anak sendiri.

Sebaliknya, semua pihak utamanya wali murid maupun internal sekolah, diminta lebih berfikir positif karena merger 3 SDN itu juga tidak menghilangkan aspek historikal, sosial maupun psikologis ketiga SD. Ia juga menegaskan aksi kemarin tidak akan mempengaruhi proses merger yang memang sudah lama terjadi.

Kadisdik Moh. Sauman menegaskan bahwa proses merger 3 SDN menjadi satu manajemen itu sebenarnya sudah lama dan dikukuhkan melalui SK Bupati. Sebelum itu menjadi keputusan, juga sudah melalui sosialisasi, rembugan berulang kali dengan UPTD setempat. Sehingga amat disayangkan ketika muncul aksi demo itu berlangsung belakangan apalagi mendekati pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

“Kalau dikatakan belum ada sosialisasi, mungkin dari kepala sekolahnya yang kurang sosialisasi ke wali murid. Karena merger sudah di-SK Bupati dan dulu tidak ada masalah,” jelasnya.

Menurutnya keputusan satu manajemen itu dilakukan semata-mata demi efektivitas pembelajaran karena ketiga SDN itu berada di satu kompleks. Pemberian nama SDN Mojo 58 juga untuk mengakomodasi semuanya sehingga tidak ada yang merasa dimatikan atau dihilangkan. Pihaknya dalam waktu dekat juga akan segera memanggil para guru dan karyawan yang ada di 3 SD guna berembug bersama agar sama-sama menjaga kondusivitas demi kepentingan bersama.

“Saya berharap tidak terulang lagi. Kasihan, anak-anak sekecil itu sudah diperalat untuk demo apalagi sampai meneror siswa SD lain. Itu justru pendidikan yang tidak baik bagi mereka,” tegasnya.

Wardoyo