JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Sensasi Menggoda si “Hitam” Rawon Setan

Sensasi Menggoda si “Hitam” Rawon Setan

426
BAGIKAN
rawon setan |ANTARA
rawon setan |ANTARA

SURABAYA– Siapa tak kenal rawon? Ya foodie ternama Indonesia, Bondan Winarno, memasukkan masakan berkuah encer coklat kehitaman berisi potongan daging sapi ini ke dalam daftar 100 makanan Nusantara pilihannya.

Dalam bukunya “100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia” (2013), Rawon bertengger bersama empat makanan tradisional Jawa Timur yang lain — Soto Ayam, Nasi Krawu, Ayam Lodho dan Rujak Cingur.

Karena popularitasnya yang sudah menasional, tak sulit menemukan restoran di luar Jawa Timur yang menawarkan Rawon dalam daftar menunya. Di Jakarta, misalnya, makanan khas Jawa Timur ini dapat dinikmati di cabang Rumah Makan Rawon Nguling di Jalan Cikajang 49, Kabayoran Baru, tulis Bondan.

Di daerah asal makanan berbahan daging sapi bagian has, air asam jawa, serai, daun bawang, lengkuas, daun jeruk dengan bumbu halus berupa keluak, cabai merah keriting, bawah putih, ketumbar, kunyit dan garam secukupnya ini tentu sangat mudah untuk menemukan rumah makan yang menawarkan menu Rawon.

Di Kota Surabaya, di antara restoran yang mengusung nama Rawon sebagai “branding” bisnis kulinernya adalah Rawon Setan yang terletak persis di depan salah satu hotel mewah di Jalan Embong Malang.

Memasuki kedai makanan yang dikelola Mujianto (63) bersama istrinya, Lusiati (49), ini, konsumen menemukan banyak foto dari sejumlah pejabat maupun selebriti. Mereka pernah mampir di warung yang buka dari pukul 08.00 WIB hingga subuh ini.

Di antara deretan foto yang menghiasi dinding ruang utama dan ruang samping restoran itu, tampak foto Gubernur Jawa Timur Sukarwo, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, dan sejumlah artis seperti Ariel Noah, Glen Fredly, Charlie Setia Band, dan Yovie Kahitna.

Ketika Antara berkunjung siang hari ke restoran yang menurut pemiliknya, Mujianto, tidak membuka cabang di mana pun sejak berdiri tahun 1951 inI.

Umumnya mereka memang khusus datang ke tempat itu untuk makan siang, bukan untuk “hang out” atau kongkow bersantai sambil makan sehingga begitu selesai makan, mereka segera pergi. Biasanya tak sampai hingga bermenit-menit kemudian kursi-kursi kosong yang baru saja ditinggalkan, konsumennya tersebut telah terisi lagi dengan konsumen baru. Demikian terus silih berganti hingga tempat kecil tersebut terlihat selalu penuh.

Menurut Mujianto, nama Rawon Setan bukan diberikan olehnya melainkan oleh wartawan yang pernah menulis tentang restoran tersebut. Kata “setan” dilabel kan oleh sang wartawan karena awalnya dulu restoran tersebut merupakan warung pinggir jalan yang mulai buka pada tengah malam hingga subuh.

“Dulu yang mengelola ibu saya. Sejak berdiri hingga sebelum 2006, waktu bukanya mulai tengah malam sampai subuh sekitar pukul 04.00 WIB. Baru pada 2006, kami buka mulai pagi pukul 08.00 WIB sampai subuh.”

“Kalau sekarang orang pada kenal dengan namanya yang sekarang (Rawon Setan), pelanggan kami di tahun tujuh puluhan menyebut warung kami dengan ‘Rawon Hostes’ karena banyak yang habis dugem makan di sini,” kata bapak tiga anak ini.

Bagi Mujianto, dia dan istrinya yang sehari-hari menjadi koki di rumah makannya ini sangat memerhatikan kepuasan pelanggan atas rasa menu Rawon yang menjadi inti bisnis mereka.

“Karena itulah kami nggak mau buka cabang. Soalnya, memasak Rawon itu agak sulit. Jadi kalau diwakilkan (ke pemasak lain), rasanya lain. Kadang-kadang kita masak sendiri saja dengan daging yang bukan pilihan, rasanya sudah lain padahal bumbunya sama. Jadi kami takut tidak enak dan konsumen kecewa,” katanya.

Soal rasa itu pulalah yang membuat Eka Fatmawati, warga Surabaya, mengaku sudah tiga kali bersantap di restoran Rawon Setan itu.

“Selama tinggal di Surabaya sejak 2008, saya sudah tiga kali ke sana karena rasanya yang enak,” kata perempuan asal Gresik yang bekerja sebagai karyawati salah satu hotel di Jalan Pandegiling No. 45, Raya Darmo ini.

ANTARA