JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Siswa SDN 5 Sragen Dikerahkan Tolak Penggabungan Sekolah

Siswa SDN 5 Sragen Dikerahkan Tolak Penggabungan Sekolah

610
BAGIKAN
Foto: Joglosemar/Wardoyo
Foto: Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN—Puluhan siswa SDN 5 Sragen dikerahkan untuk mengikuti aksi demo menolak digabungnya SDN 8 dan SDN Mojo, Kamis (26/2/2015).

Demo dadakan itu berlangsung di tengah jam pelajaran efektif sekitar pukul 10.30 WIB. Puluhan siswa dari berbagai kelas di SDN 5 mendadak keluar dari ruangan mereka sembari membawa beberapa poster dan membentangkan spanduk bertuliskan penolakan terhadap penggabungan SDN tersebut dengan SDN Mojo dan SDN 8 Sragen.

Selesai membentangkan spanduk, puluhan siswa yang didukung beberapa wali murid itu serentak meneriakkan yel-yel “SD 5 harus pergi” di depan pintu ruang guru dan ruang siswa SD Mojo. Sebagian juga berkeliling dan menghardik setiap siswa SDN Mojo yang mereka lihat.

“SDN 5 itu sudah ada di sini sejak dulu, tapi tahu-tahu kemarin kami dapat kabar sudah digabung dengan SDN Mojo dan SDN 8. Yang menyakitkan, yang ditunjuk jadi kepala sekolahnya malah kepala SDN Mojo, sedang kepala SDN 5 malah dipindah,” ujar Antik (36), wali murid SDN 5 asal Mojo Wetan yang ikut berdemo.

Menurutnya, penunjukan kepala SDN Mojo sebagai kepala sekolah di kompleks sekolah itu dinilai sudah melukai pihak SDN 5 dan 8. “Lha wong SDN Mojo itu ibaratnya nunut kok malah nglunjak sing dinunuti,” timpal Bu Indra, wali murid asal Pilangsari.

Sekda Sragen Tatag Prabawanto juga langsung turun menemui wali murid. Ia menegaskan, penggabungan tiga SDN itu menjadi SDN Mojo 58 diambil melalui proses panjang dan dipandang kebijakan yang terbaik demi kelangsungan bersama SDN 5, 8, dan Mojo. Ia justru meminta agar wali murid lebih arif menyikapi penggabungan, lantaran semua juga demi kelancaran belajar mengajar siswa.

Wardoyo