JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Sudah Saatnya Buah Lokal Jadi Komoditas Ekspor

Sudah Saatnya Buah Lokal Jadi Komoditas Ekspor

256
BAGIKAN
Pekerja memanen buah melon di areal persawahan Blulukan, Colomadu, Karanganyar, Sabtu (24/01/2015). Hasil panen melon tersebut akan dikirim ke Semarang dan Bandung  dengan harga jual Rp.8.000-Rp. 9.000 perkilogramnya mengingat hasil yang kurang bagus pada musim penghujan_Foto_Maksum N F
Pekerja memanen buah melon di areal persawahan Blulukan, Colomadu, Karanganyar, Sabtu (24/01/2015). Hasil panen melon tersebut akan dikirim ke Semarang dan Bandung dengan harga jual Rp.8.000-Rp. 9.000 perkilogramnya mengingat hasil yang kurang bagus pada musim penghujan_Foto_Maksum N F

JAKARTA– Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, mendorong buah lokal mampu menjadi komoditas ekspor karena kualitasnya tidak kalah dengan buah impor.

“Kita harus menjadikan buah lokal menjadi produk nasional terlebih dahulu yang dikonsumsi seluruh masyarakat Indonesia, kemudian bagaimana untuk bisa menjadi produk internasional,” kata Rachmat.

Rachmat mengatakan, untuk menjadi produk internasional buah-buahan dalam negeri harus mampu menembus pasar ekspor dimana dari segi kualitas sesungguhnya tidak kalah dari buah-buahan impor.

“Itu tahapan yang harus kita bangun, sebagai orang Indonesia harus mencintai produknya sendiri, produk dalam negeri,” ujar Rachmat.

Menurut Rachmat, jika masyarakat tidak mencintai buah-buahan produk dalam negeri maka akan sulit untuk mengekspornya.

“Jika kita tidak bisa mencintai produk sendiri, bagaimana kita bisa mengekspor, kita harus menjadikan produk dalam negeri sebagai produk kebanggaan kita,” ujar Rachmat.

Sementara di tempat yang sama, Direktur Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, menyatakan bahwa potensi ekspor buah-buahan sangat terbuka lebar. Saat ini Indonesia baru mampu mengekspor beberapa jenis buah lokal saja.

“Salak sudah diekspor ke Australia, sementara yang cukup tinggi ekspornya pada tahun 2014 lalu adalah tamarin dimana nilainya kurang lebih mencapai 200 juta dolar Amerika Serikat,” ujar Nus.

Untuk kedepannya, Kementerian Perdagangan akan mendorong ekspor produk buah lokal tersebut walau memang masih ada beberapa kendala yang harus diselesaikan yakni banyaknya negara tujuan ekspor masih belum mau menerima buah asal Indonesia.

“Ukuran buah-buahan belum seragam (sama), jadi kebanyakan ditolak negara lain,” kata Nus.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2014 lalu mengalami defisit sebesar 1,88 miliar dolar AS, dimana ekspor tercatat mencapai 176,29 miliar dolar AS, sementara impor sebesar 178,89 miliar dolar AS. Pemerintah menargetkan peningkatan ekspor non-migas sebesar 300 persen pada 2019 mendatang.

Sementara secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Desember 2014 mencapai 176,29 miliar dolar AS, atau turun 3,43 persen jika dibanding periode yang sama tahun 2013, dan ekspor non-migas tercatat 145,96 miliar dolar AS atau turun 2,64 persen.

Berdasarkan sektor, ekspor non-migas dari hasil pengolahan periode Januari-Desember 2014 mangalami kenaikan sebesar 3,80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013 lalu. Dimana ekspor hasil pertanian naik 1,01 persen, sementara ekspor hasil tambang dan lainnya turun 26,67 persen.

ANTARA