JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tak Benar Ada Tumbal Nyawa Saat Mendirikan Surakarta

Tak Benar Ada Tumbal Nyawa Saat Mendirikan Surakarta

337
BAGIKAN
Keraton Surakarta | Ilustrasi: Maksum Nur Fauzan
Keraton Surakarta | Ilustrasi: Maksum Nur Fauzan

JIKA ada mitos yang mengatakan saat mendirikan Keraton Surakarta harus menumbalkan nyawa seorang tledek atau sindhen, maka hal itu tidaklah benar.

Selain tledek juga ada persyaratan lain yang dibutuhkan, yaitu gong Kiai Sekardalima, dan daun lumbu untuk menyumbat aliran air rawa Kedung Lumbu di desa Sala, yang akan dipakai sebagai lokasi baru bangunan Keraton Surakarta.

Karena konon dikisahkan, tanpa ada kepala ledhek, gong Kiai Sekardalima, dan daun lumbu, maka air rawa akan tetap menggenang, meski diurug tanah dan balok kayu sebanyak apapun.

Menurut KGPH Puger, Pengageng Kusuma Wandawa Keraton Surakarta, sebenarnya yang dimaksud semua persyaratan dalam kisah tersebut adalah simbol semata. Khususnya untuk tledek, yang dimaksud disitu sebenarnya bukanlah sinden, melainkan uang.

Karena jika tidak ada ganti rugi untuk tanah yang dibeli, maka disitu Raja berarti sewenang-wenang dan tidak mempunyai belas kasih kepada masyarakat kecil. Untuk itu, Raja secara bijaksana harus memberikan ganti rugi yang layak kepada masyarakat, sehingga tidak ada satu pun pihak yang dirugikan dalam mendirikan Keraton Surakarta yang diperingati setiap tanggal 17 Suro ini.

“Sirah tledek itu bukan kepala sinden tapi duit, karena tledek disini sebenarnya sebutan untuk uang ringgit. Karena disebut kepala tledek, maka artinya butuh uang yang banyak sebesar selaksa atau 10 ribu ringgit, untuk membeli tanah desa Sala, karena akan dibangun Keraton,” jelas Gusti Puger.

Sedangkan yang dimaksud gong Sekardalima, dan daun lumbu adalah sabda Raja Paku Buwono (PB) II yang berjanji akan turut memakmurkan kehidupan masyarakat di wilayah Kedung Lumbu, saat nanti Keraton Surakarta sudah jadi.

“Janji itu ditepati, dan setelah ratusan tahun berjalan, buktinya Keraton Surakarta mampu memberikan kemakmuran dan kesejahteraan untuk rakyatnya. Terutama warga Kedung Lumbu, dan sekitarnya,” ucap Gusti Puger

Deniawan Tommy Chandra Wijaya