JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Talut Ambrol, Warung Sate Milik Warga Nguter Jadi Korban

Talut Ambrol, Warung Sate Milik Warga Nguter Jadi Korban

312
BAGIKAN
AMBLES – Warung sate milik Suyadi (63) di Ngambil-ambil RT 1 RW II, Desa/Kecamatan Nguter yang ambrol ke sungai, Sabtu (21/2).  |Sofarudin
AMBLES – Warung sate milik Suyadi (63) di Ngambil-ambil RT 1 RW II, Desa/Kecamatan Nguter yang ambrol ke sungai, Sabtu (21/2). |Sofarudin

SUKOHARJO – Warung sate kambing permanen milik Suyadi (63) warga Ngambil-ambil RT 1 RW II, Desa/Kecamatan Nguter ambrol ke sungai, Sabtu (21/2/2015). Warung tembok tersebut berdiri diatas talut tanggul sungai sepanjang kira-kira 6 meter. Talut beton di sungai selebar kurang lebih 3,5 meter tersebut ambrol akibat derasnya arus yang menggerus dinding-dinding sungai bagian bawah.

Pemilik warung, Suyadi (63) mengaku tidak menyangka jika warung bersebelahan dengan jembatan itu bakal ambrol pagi itu. Dia mengaku selama ini tidak ada tanda-tanda jika tanah di bawah warungnya ternyata gerowong. Bahkan, sebelum ke pasar, dia sempat memasuki warung dan tidak ada tanda-tanda warung itu bakal ambrol ke sungai bermuara di Sungai Bengawan Solo itu.

“Ambruknya kemarin (Sabtu) kemarin Pukul 08.00. Paginya saya ambil helm pukul 05.30 tidak ada tanda-tanda. Pukul 07.15 saya di telepon tetangga kalau warunge longsor ke sungai,” kata Suyadi dengan bahasa jawa halus, Minggu (22/1).

Menurutnya, sebelum akhirnya di tembok, warung yang dirintisnya betahun-tahun itu hanya berdinding anyaman bambu. Berdasarkan hitungannya, kerugian yang diderita antara Rp 25 hingga Rp 30 juta. Suyadi mengaku trauma dan belum berencana melanjutkan usahanya. Kemungkinan dia memilih istirahat dan tidak membuka warung sate lagi.

“Tahap pembangunan empat kali. Pertama gedhek (anyaman bambu), multiplek, blabak, dan tembok. Dapat sedikit rezeki tak tempolke. Sayamembangun tembok itu baru 16 bulan ini,” terangnya.

Suyadi mengklaim, berdirinya warung sate itu sudah mendapat izin perangkat desa dan warga sekitar. Termasuk pemilik tanah yang berdampingan dengan sungai tersebut. Selama bangunan warung tersebut tidak diperjual-belikan atau disewakan ke orang lain. “Warung tidak pernah untuk menginap. Pagi buka, sore tutup,” imbuhnya. Akibat peristiwa itu, Suyadi mengaku trauma dan belum berencana melanjutkan usahanya.

Seorang saksi mata, Iswanto menceritakan warung tersebut tidak begitu saja amblek. Namun rebah secara pelan-pelan dan akhirnya mring ke sungai

“Ambles pelan-pelan. Kemarin BPBD (Badan Penaggulangan Bencana Daerah Sukoharjo), Camat perangkat desa dan warga sekitar langsung membantu evakuasi. Anehnya tidak ada piring yang pecah. Gentingnya juga masih utuh semua,” katanya.

Sofarudin