JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tiga Pendaki Tersesat di Gunung Slamet

    Tiga Pendaki Tersesat di Gunung Slamet

    223
    BAGIKAN

    Gunung SlametPURBALINGGA  – Tiga orang pendaki asal Yogyakarta dilaporkan tersesat di Gunung Slamet, Jawa Tengah, kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Purbalingga Prayitno.

    “Informasi kabar tersesatnya para pendaki itu disampaikan oleh salah satu pendaki melalui pesan singkat kepada petugas SAR (Search and Rescue) Pos Pendakian Bambangan, Slamet Ardianzah,” katanya di Purbalingga, Jumat (13/2/2015) sore.

    Menurut dia, tiga pendaki tersebut bernama Ronald Dicki, Airlangga Virgianto, dan Zanuar Renaldo yang melakukan pendakian sejak hari Sabtu (7/2) melalui Pos Pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

    Padahal, kata dia, Dinbudparpora hingga saat ini masih menutup pos pendakian tersebut, karena Gunung Slamet masih berstatus “Waspada” sehingga belum boleh didaki.

    Dalam hal ini, lanjut dia, pendakian Gunung Slamet ditutup sejak tanggal 10 Maret 2014 setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status “Waspada” terhadap gunung tertinggi di Jateng itu.

    Ia mengatakan bahwa status Gunung Slamet sempat dinaikkan menjadi “Siaga” pada tanggal 30 April 2014, kemudian diturunkan menjadi “Waspada” pada tanggal 12 Mei, selanjutnya pada tanggal 12 Agustus naik lagi menjadi “Siaga”, dan sejak tanggal 5 Januari 2015 hingga sekarang diturunkan menjadi “Waspada”.

    “Kami sudah memasang tulisan larangan pendakian di pondok pemuda tempat istirahat dan di gapura pendakian namun mereka nekat naik ke Gunung Slamet secara sembunyi-sembunyi atau tanpa sepengetahuan petugas,” ucapnya.

    Ia mengatakan bahwa beberapa waktu lalu, pihaknya juga sempat melarang pendaki yang sudah berada di Pos Bambangan.

    Setelah mendapat penjelasan, kata dia, banyak pendaki yang mengurungkan niatnya untuk mendaki Gunung Slamet.

    “Namun, untuk tiga pendaki ini, petugas tidak sampai bertemu dengan mereka. Meskipun demikian, tulisan larangan pendakian sudah sangat besar dan mudah dibaca jelas, mestinya pendaki ya mematuhinya,” tutur Prayitno.

    Sementara itu, anggota SAR Pos Pendakian Gunung Slamet, Slamet Ardianzah mengatakan bahwa pihaknya sempat berkomunikasi dengan tiga pendaki tersebut.

    “Mereka mengaku tersesat sejak hari Sabtu (7/2). Katanya hanya mau berkemah di lereng Gunung Slamet, tapi mereka mengaku sudah naik ke puncak,” ujarnya.

    Menurut dia, tiga pendaki itu mengaku sempat singgah di Pos Pendakian Bambangan, namun tidak ada orang sehingga mereka mencatat nomor telepon seluler miliknya yang terpasang di tempat tersebut.

    “Saya sempat kesal, sebab di gapura jalur pendakian juga sudah terpasang pelarangan mendaki,” tukasnya.

    Komandan Lapangan SAR Purbalingga Wahyudi mengatakan bahwa tim pencari sudah diberangkatkan ke puncak Gunung Slamet sejak ada kabar jika ada tiga pendaki yang tersesat.

    Akan tetapi hingga Jumat sore, kata dia, tim pencari belum menemukan tanda-tanda keberadaan para pendaki tersebut.

    “Tim evakuasi sempat menemukan selendang yang terikat di pohon tapi belum tahu pasti apakah itu milik mereka atau bukan. Sebelumnya seorang petani juga mengaku melihat tiga orang pendaki membawa tas besar, naik ke puncak,” ujarnya.

    Berdasarkan pesan singkat terakhir yang diterima tim SAR, kata dia, tiga pendaki itu mengaku berada di wilayah hutan dan beristirahat di punggungan sisi timur-utara.

    Menurut dia, hingga Jumat sore, belasan petugas SAR gabungan dari SAR Purbalingga, TNI, Polri, SAR desa, dan pecinta alam masih bertahan di Pos Pendakian Bambangan untuk menunggu perkembangan lebih lanjut.

    Antara | Sumarwoto