JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tragedi Delay Lion Air, Kemenhub Bentuk Tim Audit

Tragedi Delay Lion Air, Kemenhub Bentuk Tim Audit

305
BAGIKAN

Lionair

JAKARTA– Kementerian Perhubungan membentuk Tim Audit untuk memeriksa penanganan PT Lion Air kepada calon penumpang saat pesawat mengalami keterlambatan jam terbang hingga puluhan jam pada Rabu (18/2/2015) pekan lalu.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Suprasetyo mengatakan Lion Air telah melanggar pasal 149 dan 156 Undang-undang nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. “Karena permasalahannya mengenai SOP dalam penanganan delay, maka Kemenhub akan membentuk tim audit,” kata dia kepada wartawan di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (23/2/2015).

Tim ini diketuai oleh Direktur Perhubungan Udara, Direktur Keamanan Penerbangan, dan Direktur Kelayakan Penerbangan. Tugas tim antara lain mengevaluasi agar masalah Lion Air tidak terulang.

Menurut Suprasetyo langkah Kementerian Perhubungan ini sekaligus membantah bahwa Lion Air dianakemaskan oleh pemerintah. “Kalau dianggap anak emas tidak akan dikenakan UU 1 tahun 2009. Jadi dalam masalah ini yang dilanggar Lion Air itu mengenai penanganan delay, ini yang dijalankan dengan benar atau tidak,” ‎kata dia.

Di dalam Undang-undang Penerbangan menurut Suprasetyo sudah diatur tentang kewajiban maskapai kepada calon penumpang bila terjadi delay.

“Seperti jika delay ketentuan apa yang akan dilakukan, jika memang gagal terbang apa mesti mengalihkannya dengan penerbangan maskapai lain dengan tujuan yang sama, hingga bagaimana maskapai menyiapkan konsumsi, akomodasi jika tidak ada penerbangan tujuan,” kata Suprasetyo.

Terkait insiden delay hebat pada Rabu-Jumat pekan lalu, hari ini manajemen Lion Air meminta maaf. Maskapai berlogo singa merah ini juga menyatakan siap menjalankan sanksi apapun yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan.

“Meminta maaf dari hati yang terdalam kepada seluruh penumpang Lion Air,” kata Direktur Operasional Airport Lion Air, Daniel Putut saat memenuhi pemanggilan Kemenhub terkait tragedi delay parah.

Aditya Fajar Indrawan | Detik