JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Wisatawan Asing Sukai Kuda Kepang Produk Solo

Wisatawan Asing Sukai Kuda Kepang Produk Solo

426
BAGIKAN

 

Perajin mainan kuda kepang, Parno (65) menyelesaikan pembuatan mainan kuda kepang di rumah produksinya di Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/2). Menurut perajin, selain sebagai alat kelengkapan seni tari, mainan kuda kepang yang dijual Rp.50.000 hingga Rp. 100.000 tergantung ukuran, juga untuk souvernir bagi para turis di kawasan wisata di Jawa Tengah dan Yogyakarta. ANTARA FOTO/Maulana Surya
Perajin mainan kuda kepang, Parno (65) menyelesaikan pembuatan mainan kuda kepang di rumah produksinya di Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/2). Menurut perajin, selain sebagai alat kelengkapan seni tari, mainan kuda kepang yang dijual Rp.50.000 hingga Rp. 100.000 tergantung ukuran, juga untuk souvernir bagi para turis di kawasan wisata di Jawa Tengah dan Yogyakarta. ANTARA FOTO/Maulana Surya

SOLO  – Warga Baluwarti RT 04 RW 01 Pasar Kliwon Kota Solo, Jawa Tengah, pengrajin mainan kuda kepang, boleh berbangga, karena hasil kreatifnya diminati wisatawan asing.

Seorang pengrajin kuda kepang, Parno (65), di Solo, Rabu, mengatakan, hasil kreatif dari bahan limbah kardus yang dibuat menjadi barang souvenir kuda kepang banyak diminati wisatawan luar negeri dari Singapura dan Australia.

Parno yang mempunyai nama lengkap Parno Raharjo itu, menekuni bisnis ekonomi kreatif tersbeut sejak dirinya masih muda pada 1969. Kerajinan kuda kepang memang dinilai masih langka, karena yang membuat ini, hampir tidak ada di kota ini.

“Saya membuat kuda kepang berbagai ukuran tergantung pesanan, dengan panjang 30 centimeter hingga satu meter. Harga juga juga variasi dari Rp5.000 hingga Rp100 ribu per buah,” katanya.

Bahkan, kuda kepang yang ukuran besar atau penjang satu meter bisa dijual hingga Rp300 ribu per buah.

Menurut dia, dirinya membuat sebuah souvenir kuda kepang mampu menghasilkan keuntungan sekitar 75 persen dari biaya produksinya.

Ia menjelaskan, cara pembuatannya dari limbah kardus yang dibentuk seperti kuda sesuai ukuran yang pemesan kemudian dilem dan dilapisi daun gebang dan kain bludru. Setelah itu, diberikan manik-manik untuk hiasan seperti kuda baik mata dan mulutnya.

“Kuda kepang kemudian diberi hiasan rambut yang dibuat dari bahan serat nanas sehingga kelihatan cantik dan indah,” katanya.

Menurut dia, dirinya dengan dibantu putranya mampu meproduksi souvenir kuda kepang hingga 30 buah per harinya untuk memenuhi kebutuhan pesanan.

Ia menjelaskan, idenya membuat barang limbah menjadi barang kreatif tersebut muncul ketika dirinya masih muda hanya membuat dua kuda kepang. Ketika itu, setiap satu kuda kepang laku dijual hanya Rp2 pada 1969.

“Kami terus berkembang hingga sekarang, dan hasilmya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah kelima anaknya. Kelima anaknya itu, sekarang sudah berkeluarga semuanya,” katanya.

Menyinggung soal kendala bisnis membuat kuda kepang, Parno menjelaskan kurangnya tenaga kerja ahli membuat kerajinan tersebut.

Bahkan, dirinya sempat mendidik para remaja di kampung untuk wirasuwasta menjadi pengrajin kuda kepang yang memilik potensi cukup menjanjikan.

Menurut dia, pemesan kepbanyakan untuk hiasan dingin di hotel-hotel dan rumah di luar negeri. Tetapi, hasil produknya juga banyak yang digunakan untuk kesenian tari kuda lumping di beberapa daerah di Indonesia.

“Kami sebelumnya ada order dari Singapura dan Australia sekitar 300 hingga 400 buah per bulannya, sedangkan pasar lokal juga ada peningkatan, baik hanya untuk souvenir maupun permainan kesenian kuda lumping,” katanya.

Menurut dia, pihaknya berharap kepada generasi muda untuk bisa belajar menciptakan kreatifitas yang bermafaat bagi orang banyak dengan wirausaha. Karena, hal ini, banyak pontensi untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteran keluarganya.

Antara | Bambang Dwi Marwoto