JOGLOSEMAR.CO Berita Utama 70 Persen Balita Diduga Menjadi Perokok Pasif

70 Persen Balita Diduga Menjadi Perokok Pasif

97
BAGIKAN

asap-rokok_663_382KLATEN—Berdasarkan penelitian yang dibeberkan Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Klaten, menunjukkan, kurang lebih 70 persen anak dibawah lima tahun (balita) ikut jadi perokok pasif dan 66 persen ibu rumah tangga juga menjadi perokok pasif.

Petugas pelaksana (plt) Kepala Dinkes Klaten, Cahyono mengatakan, bahaya rokok mengancam kesehatan orang-orang di sekitar perokok tersebut. Pasalnya, menurut serangkaian penelitian tentang bahaya merokok, terbukti 84 persen perokok cenderung untuk merokok di dalam rumah.

“Ada sebanyak kurang lebih 70 persen balita dan ibu rumah tangga sebanyak 66 persen sebagai perokok pasif dan menerima dampak buruknya,” kata dia, Rabu (30/9/2015)).

Cahyono menjelaskan, produk kebijakan di Indonesia belum dapat melindungi masyarakat dari bahaya aktivitas merokok.

“RUU pengendalian dampak tembakau masih tersangkut di DPR sejak 2007 lalu. Dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2003, tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan, wujud pelaksanaannya juga belum menyeluruh,”urainya.

Terpisah, Kepala Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Klaten, Agus Parnyoto menuturkan, penelitian itu melibatkan sekitar tiga ribu perokok aktif sebagai sampelnya yang tersebar di 26 kecamatan di Klaten.

Agus melanjutkan, dalam penelitian itu, sebenarnya 80 persen perokok berniat untuk berhenti. Namun tidak sampai tujuh persennya dapat berhasil menghentikan aktivitas merokok tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, pihaknya berupaya membantu para perokok itu untuk dapat berhenti.

“Oleh karena itu kami berupaya membuka klinik konseling, untuk membantu perokok yang ingin berhenti,” ujarnya.

Namun demikian, jumlah pasien dalam program tersebut dinilai masih minim. Dalam tiga bulan terakhir saja, baru 31 orang yang mendaftar untuk program tersebut. Lebih parah lagi, hanya dua orang yang serius mengikuti rangkaian konseling yang di berikan.

“Di sini hanya baru sebatas konseling. Memang minat untuk program ini masih sedikit,”ungkapnya.

Sehingga, lanjut Agus, pihaknya berkoordinasi dengan Puskesmas di seluruh Klaten untuk berupaya memfasilitasi para pasien, khususnya untuk penyakit yang berhubungan dengan pernafasan.

Dani Prima