Agus Santai Tanggapi Kritikan Barisan Asal Dudu Agus

Agus Santai Tanggapi Kritikan Barisan Asal Dudu Agus

162
Agus Fatchur Rahman
Agus Fatchur Rahman

SRAGEN– Sejumlah mantan relawan pendukung Agus Fatchur Rahman yang kecewa dan menggalang barisan ADA dengan makna Asal Dudu Agus menyerang dengan menuding Agus melakukan politisisasi birokrasi menuju Pilkada ini. Tidak hanya itu, mantan relawan yang digawangi Mahmudi Tohpati dan Saiful Hidayat itu juga menilai kecewa karena ada beberapa janji yang tidak direalisasi.

“Ya, kami sebagai orang yang dulu mendukungnya memang kecewa dengan apa yang pernah dijanjikan dulu ke relawan, ke masyarakat dan ke parpol pendukung. Kami juga melihat ada politisasi birokrasi untuk mendukung di Pilkada nanti. Ada indikasi PNS dikumpulkan lalu diberi arahan dan bahkan kepala dinas bilang dua dua atau Aman To. Apa itu bukan politisasi birokrasi,” ujarnya kepada Joglosemar, Rabu (16/9/2015).

Baca Juga :  Gempar Mayat Petani Ditemukan di Sungai Mungkung, Sidoharjo. Padahal Pamitnya ke Sawah

Dia mengklaim apa yang dilontarkannya itu sebagai bentuk keprihatinan atas kepemimpinan pemerintahan Agus yang menurutnya banyak tidak merealisasi programnya. Saat ditanya program dan janji apa yang belum terealisasi, Mahmudi mengatakan ada banyak namun tidak menyebutkan.

Namun ia akan menyampaikannya ketika berkampanye di hadapan massa. Ia mengatakan sejauh ini juga belum mengarahkan dukungan ke siapa dalam Pilkada nanti.

Terpisah, Bupati Agus menilai boleh saja tokoh-tokoh itu mengecam atau menilainya apa saja, namun baginya publik lah yang lebih berhak menilai. Ia juga yakin masyarakat sudah paham dan mengerti siapa orang-orang tersebut termasuk motor penggeraknya.

Perihal penilaian negatif terhadap kepemimpinannya, Agus memandang indikator baik buruknya seseorang sesungguhnya diukur dari nilai kemanfaatan dari apa yang sudah dikerjakan dan diberikan ke masyarakat.

Baca Juga :  Perenang Muda Kota Solo Pilih Konsentrasi ke Jakarta

“Apakah bermanfaat atau tidak manfaat bagi masyarakat lalu mereka bermanfaat apa, biar masyarakat juga yang menilai. Soal janji kayak penataan birokrasi, karena mereka tidak masuk di sistem birokrasi. Justru amburadulnya birokrasi dulu itu karena banyak diintervensi pihak ketiga,” ujarnya.

Perihal tudingan politisasi birokrasi, Agus merasa tidak melakukannya. Menurutnya apabila PNS kemudian termobilisasi oleh sebuah mekanisme atau sistem hal itu tak lebih karena mereka sebagai bagian warga negara yang punya hak politik dan kewajiban memilih.

“Kecuali PNS tak klumpuke terus saya kampanye teriak hidup-hidup kayak jaman orde baru itu baru mobilisasi. Saya kira kalau semangat mereka berkumpul terus diskus untuk memahami peta secara logis dan riil, tidak masalah,” tandasnya.

Wardoyo

BAGIKAN