JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Anak Diare? Jangan Panik, Baca Info Berikut

Anak Diare? Jangan Panik, Baca Info Berikut

69
BAGIKAN

diare_blogspot-comSOLO– Diare menjadi momok tersendiri bagi negara yang sedang berkembang. Pasalnya, angka kasusnya bahkan kematiannya cukup tinggi. Kematian tersebut terjadi karena diare yang dialami oleh pasien bersifat akut sehingga perlu penanganan ekstra cepat.

Pada pusat pelayanan primer atau yang lebih sering dikenal dengaan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), diare umumnya mengambil urutan kedua kasus terbanyak setelah infeksi saluran napas. Penyebab diare banyak, antara lain adanya infeksi mikroorganisme yaitu kuman atau virus penyebab penyakit, reaksi alergi terhadap obat atau makanan yang masuk ke dalam saluran cerna, dan juga gangguan penyerapan sari sari makanan akibat kerusakan atau gangguan selaput lendir usus, sering disebut malabsorpsi.

Masalahnya, terkadang diare hanya dipandang sebagai penyakit yang biasa oleh sebagian orang, termasuk orangtua dan pengasuh bayi. Hanya saja, hal itu justru menimbulkan dampak yang luar biasa, yakni kondisi dehidrasi yang berat. Akibat kekurangan cairan itu, maka akan terjadi kekacauan metabolisme sel tubuh. Tak jarang kasus-kasus demikian berakhir kematian.

Dokter Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit (RS) Dr Oen Surakarta, dr Antonius Budi Santoso kepada Joglosemar mengungkapkan, diare merupakan adalah kondisi buang air besar pada bayi atau anak lebih dari tiga kali per hari disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu Minggu. Umumnya diare tidak berdiri sendiri. Bersama dengan keluhan mual dan muntah dalam jumlah banyak atau disebut gastroenteritis atau radang saluran cerna. “Dan orang awam sering menyebut dengan istilah muntaber atau muntah dan berak,” kata dia.

 Pada beberapa anak, risiko terkena sakit diare dapat meningkat akibat empat hal, yaitu Finger, Flies, Fluid, Field (4 F). Rute mikroorganisme penyebab penyakit adalah fekal-oral, yaitu kuman masuk melalui jari tangan (finger) yang tercemar kotoran/ kuman penyakit yang terbawa oleh lalat (flies), air tidak diolah dengan baik (fluid), maupun lingkungan sekitar yang kotor dan tidak higienis (field). Melalui beberapa cara di atas, lanjut dia, kuman penyakit dapat masuk ke mulut menuju saluran cerna dan membuat jaringan usus teriritasi.

Akibatnya, usus tidak mampu menyerap air bahkan cairan dinding usus berpindah ke rongga usus akibatnya dikeluarkan dalam jumlah besar sebagai diare.

Lalu, bagaimana respon tubuh saat mengalami diare ? Tubuh kita diciptakan dengan sangat sempurna oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tubuh mampu memberikan kompensasi dengan menarik air yang ada di sel-sel tubuh agar jumlah cairan yang ada di dalam pembuluh darah tercukupi. “Masalahnya, apabila hal ini berlangsung terus menerus, sel-sel tubuh menjadi kekurangan cairan atau kekeringan sehingga muncul gejala dan tanda dehidrasi,” tegasnya.

Lantas, bagaimana cara mengetahui anak/ bayi mengalami dehidrasi berat? Dirinya mengungkapkan ciri khas dari dehidrasi adalah penurunan berat badan turun lebih dari 10 persen, anak tampak tidak reweltetapi justru lebih lemah, banyak tidur, sukar dibangunkan, tidak respon, bahkan tidak sadar. Kalau sudah seperti itu, kita harus segera bertindak cepat. Pasalnya, anak ini bukan tenang bukan karena bertambah baik, namun bertambah jelek dan bahaya. Denyut jantung sangat cepat atau sangat lambat.

 “Di ruang rawat intensif anak RS Dr Oen Surakarta seringkali menerima anak riwayat muntah dan diare terlambat datang ke pusat layanan kesehatan masyarakat dengan kondisi kritis, yaitu anak tidak sadar, panas tinggi, denyut jantung sangat cepat, napas terengah-engah, dan sudah tidak keluar air kencing. Ini adalah kondisi kritis. Adanya napas memburu sering disalahartikan sesak napas, padahal itu merupakan tanda kekacauan metabolisme,” papar dia.

Pada anak usia  kurang dari satu tahun di mana ubun-ubunnya belum menutup, kita akan bisa meraba bahwa ubun-ubun cekung/dhekok, mata cowong, air mata kering, lidah dan bibir kering, bila dicubit kulit kembali dengan lambat. Bila sudah parah, kaki tangan dingin, denyut jantung melemah, tekanan darah melemah, dan selanjutnya risiko terjadi kematian adalah sangat besar.

Murniati