JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Berikut Aturan Baru Pembuatan Sumur Dalam dan Sumur Dangkal di Boyolali

Berikut Aturan Baru Pembuatan Sumur Dalam dan Sumur Dangkal di Boyolali

940
KEKERINGAN-Warga Desa Guwo, Kecamatan Kemusu terpaksa ngangsu di sumur kecil di sungai, Minggu (8/9). Di musim kemarau, sumur-sumur warga selalu kering dan terpaksa membuat bilik di sungai untuk mendapatkan air. Joglosemar|Ario Bhawono
KEKERINGAN-Warga Desa Guwo, Kecamatan Kemusu terpaksa ngangsu di sumur kecil di sungai, Minggu (8/9). Di musim kemarau, sumur-sumur warga selalu kering dan terpaksa membuat bilik di sungai untuk mendapatkan air. Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI- Pembuatan sumur dalam di wilayah Boyolali khususnya untuk industri wajib menggunakan water meter dan harus berijin. Sebaliknya pembuatan sumur untuk pertanian maupun rumah tangga tidak perlu ijin, namun penggunaan air dibatasi maksimal 100 meter kubik/bulan.

Data Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Boyolali, saat ini terdapat sekitar 90 sumur dalam untuk industri. Sementara belum ada pendataan riil untuk sumur-sumur dangkal maupun dalam untuk pertanian maupun rumah tangga.

“Kalau yang sumur dalam untuk industry ada sekitar 90-an, sementara sumur dalam atau dangkal untuk pertanian maupun rumah tangga belum terdata, mengingat SKPD lain seperti Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan juga banyak membuat sumur untuk pertanian,” ungkap Kabid ESDM DPU dan ESDM Boyolali, Sarjuratmoko, Senin (28/9).

Dijelaskan, pembuatan sumur dalam untuk industri wajib dipenuhi perijinannya sesuai aturan yang berlaku. Namun untuk perijinan pembuatan sumur dalam, sesuai dengan peraturan yang ada saat ini langsung ke gubernur. Meski demikian, daerah juga turut dalam pengawasan, terlebih mengingat daerah juga mendapatkan hasil pajak dari operasional sumur dalam tersebut.

Sehingga menurut dia, masing-masing sumur dalam industri wajib dipasang water meter. Hanya saja besaran pajak yang dikenakan menurut dia langsung ditangani Dinas Pendapatan Pengelolaan Kekayaan dan Aset Daerah (DPPKAD). Yang pasti, pajak air sumur dalam tersebut dikenakan secara progresif.

Sementara untuk sumur pertanian maupun rumah tangga, tidak perlu ijin dalam pembuatannya. Namun sesuai dengan ketentuan, sumur tersebut dibatasi harus di bawah 2 liter/detik atau maksimal pemakaian 100 meter kubik setiap bulannya. Debit air tersebut menurut Sarju sudah mencukupi untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian.

Dijelaskannya lebih lanjut, untuk menentukan sumur dalam atau dangkal di Boyolali harus melihat kondisi lapisan tanah lokasi sumur. Pasalnya, di beberapa wilayah kedalaman lapisan tanah pertama bisa jadi lebih dari 50 meter. Hanya saja dari umumnya, sumur dangkal di wilayah Boyolali yakni antara kedalaman 5-60 meter, sedangkan kategori sumur dalam bisa mencapai 103-160 meter.

Terpisah, kebutuhan sumur untuk pertanian sangat diperlukan petani, terutama di wilayah yang sulit mendapatkan air. Biasanya, sumur bor atau sumur pantek yang dibuat petani bisa mencapai kedalaman 60 meter. Meski demikian, biasanya pengeboran sumur pantek cukup hingga air bisa keluar atau disedot dengan diesel. Suparmin (57), petani Desa Babatan, Kecamatan Sambi misalnya, juga membuat sumur pantek untuk mengairi ladangnya terutama di musim kemarau.

“Tanpa sumur pantek, sulit bercocok-tanam terutama saat kemarau,” imbuh dia.

Ario Bhawono

BAGIKAN