Berikut Strategi Pemerintah untuk Redakan Kabut Asap di Sumatera

Berikut Strategi Pemerintah untuk Redakan Kabut Asap di Sumatera

111
Ilustrasi
Ilustrasi

RIAU– Enam gubernur yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah masih menetapkan status Siaga Darurat, dengan laporan jarak pandang 300 meter di Pekanbaru, Riau.

Jarak pandang lebih pendek, yaitu 200 meter di Rengat dan Pelalawan, 2.000 meter di Dumai, 1.000 meter di Jambi dan 500 meter di Banjarmasin pada pagi hari.
Dalam khazanah penerbangan, jarak pandang aman minimal bagi penerbangan adalah 1.200 meter memakai mata telanjang tanpa bantuan alat navigasi atau optik apapun. Jarak pandang secara visual lebih pendek dari 1.200 meter itulah yang menjadi salah satu indikator penutupan operasionalisasi sementara satu bandar udara.

Kepala Pusat Data dan Informasi sekaligus Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan resminya menyebutkan, paling tidak ada empat strategi dalam operasi darurat asap itu.

Pertama, operasi hujan buatan dan pemboman air oleh BNPB menggunakan tiga unit pesawat Casa C-212 Aviocar yang telah menyebar 115 ton hujan buatan di awan Riau, 40 ton di Sumatera Selatan dan 22 ton di Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Bawa Lari Enam Sapi dan Tipu Belasan Peternak di Tanon, Polres Sragen Kejar Sindikat Ini
Substrat yang disebar di udara itu adalah garam, yang disebar di lokal-lokal awan-awan benih hujan berkumpul. Jadi informasi awal keberadaan awan penyimpan potensi hujan ini harus terlebih dulu ada secara akurat barulah pesawat terbang pembawa garam ini diterbangkan.

Selain itu 13 unit helikopter dioperasikan untuk pemboman air. Dengan rincian tiga unit di Riau, dua unit di Sumatera Selatan, dua unit di Jambi, dua unit di Kalimantan Barat, dua unit di Kalimantan Tengah dan satu unit di Kalimantan Selatan.

Sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengerahkan satu unit pesawat Air Tracktor di Riau.

Strategi kedua pemadaman di darat oleh tim gabungan yang berasal dari komponen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Kepolisian Indonesia, mahasiswa pencinta alam, dan masyarakat umum, yang di tiap provinsinya telah dikerahkan lebih dari 1.500 personel untuk operasi itu.

Baca Juga :  Tingkat Konsumsi Ikan Masih Rendah, Warga Trangsan Sukoharjo Galakkan Gemarikan dan Berdayakan Kolam
Dibandingkan dengan jumlah titik api dan luasan wilayah serta kondisi nyata medan operasi, jelas angka 1.500 personel itu masih jauh dari cukup.

Ketiga, operasi penegakan hukum oleh polisi dan PPNS. Sedikitnya 39 kasus kebakaran hutan di Sumatra sepanjang tahun ini telah ditangani oleh Polri, sedangkan PPNS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyegel lahan-lahan yang terbakar.

Penegakan hukum juga akan terus ditingkatkan dengan mengerahkan para personel Polri dan PPNS guna memburu para pembakar, sementara aparat TNI disebar melakukan patroli dan menjaga daerah-daerah yang sering dibakar.

Strategi keempat adalah pelayanan kesehatan dan sosialisasi, termasuk di antaranya maklumat pelarangan membakar hutan dan lahan oleh semua Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) di enam provinsi lokasi kebakaran hutan dan lahan.

Sementara itu, ribuan masker sudah dibagikan kepada masyarakat yang menurut data di Sumsel ada sebanyak 22.555 jiwa menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas  sedang di Riau terdapat 1.002 jiwa.

Antara
BAGIKAN