Demam Berdarah Mewabah, DPRD Solo Ubah Cara Basmi Nyamuk

Demam Berdarah Mewabah, DPRD Solo Ubah Cara Basmi Nyamuk

89
Ilustrasi
Ilustrasi

SOLO– Komisi IV DPRD Kota Surakarta mendukung upaya Dinas Kesehatan Kota (DKK) yang mengubah strategi pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Jika dulu hanya mengandalkan kader juru pemantau jentik nyamuk (Jumantik) di tingkat kelurahan, kini digeser ke tingkat RW.

Pasalnya, hingga awal September 2015 warga yang terjangkit DBD mencapai 439 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak sembilan warga meninggal dunia. Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu.

“Pada 2014 total penderita DBD yang tercatat di DKK mencapai 300an warga. Dari jumlah itu tujuh diantaranya meninggal dunia. Ini belum sampai akhir tahun saja sudah lebih dari 400 pasien. Berarti ada peningkatan drastis,” kata Ketua Komisi IV Hartanti, kepada wartawan, Selasa (15/9).

Baca Juga :  Reaksi DPRD Sragen Mendengar Banyak Ibu Melahirkan di Jalan Gilirejo Baru

Meski kader Jumantik sudah turun ke masyarakat, namun belum mampu menjangkau seluruh RT dan RW. Hal itu karena jumlah kader yang disiapkan pun terbatas.

“Ini memang baru masuk pada APBD Perubahan, karena melihat trend DBD yang terus meningkat di semester kedua. Jadi, Di setiap RW ada 50 warga yang dilatih untuk menjadi kader Jumantik. Harapannya sebaran informasi lebih mengena karena dekat di masyarakat,” paparnya.

Selain itu, dengan mempersiapkan kader di tingkat RW pemantauan bisa dilakukan lebih intensif. Menurutnya menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi cara paling efektif untuk menekan penyebaran DBD.

Bimbingan teknis (Bintek) juga berikan pada para pemangku wilayah, karena mereka juga punya tanggung jawab untuk mengontrol lingkungannya.

Baca Juga :  Walikota Jadi Wasit, Kepala Damkar Jago Lari. Begini Meriahnya Perlombaan Sambut HUT ke-72 RI di Balaikota

“Pada semester kedua ini baru bisa mencapai 400 RW di Solo dari total 600 RW yang ada. Anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 500 juta. Sisanya akan dialokaskan pada 2016,” tambahnya.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi IV Asih Sunjoto Putro juga mengingatkan perlunya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah DBD.

“Warga juga berperan memastikan tidak ada genangan air yang bisa menjadi potensi tumbuhnya jentik. Tak bisa mengandalkan fogging saja. Fogging pun harus dilaksanakan minimal dua kali dengan jarak seminggu,”tambahnya.

Asumsinya, pada fogging pertama untuk membunuh nyamuk dewasa. Sementara fogging kedua untuk membasmi jentik yang sudah tumbuh menjadi nyamuk.

Dini Tri Winaryani

BAGIKAN