JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Di Solo Ada Sembahyang Rebutan. Apa itu?

Di Solo Ada Sembahyang Rebutan. Apa itu?

114
BAGIKAN
Warga Tionghoa melakukan sembahyang Ching Bing, Minggu (12/05/2015) di Thiong Ting, Solo. Foto: Maksum Nur Fauzan
Ilustrasi. Foto: Maksum Nur Fauzan

SOLO– Umat Khonghucu terlihat khusuk saat melakukan sembahyang King Hoo Ping atau sembahyang rebutan yang diperuntukan bagi arwah di tempat ibadah Litang Majelis Agama Khongucu Indonesia (Makin) di Daerah Jagalan, Solo, Minggu (6/9/2015).

Dalam sembahyang ini Umat Khongucu juga membakar replika kapal beserta nama-nama leluhur yang didoakan, karena kapal jaman dahulu merupakan alat transportasi jarak jauh.

Untuk prosesi sembahyang sendiri diawali dengan ibadah terhadap Altar Tuhan lalu dilanjutkan dengan sembahyang King Hoo Ping secara bersama-sama dihalaman tempati ibadah tersebut.

Bahkan masyarakat yang hadir diberikan kesempatan untuk sembahyang secara pribadi sesuai doa yang diberikan untuk leluhur. Berbagai sajian berupa daging, buah-buahan lalu bau dupa dan diiringi pujian dengan memakai bahasa mandarin menjadikan sembahyang menjadi hikmah dan sangkral.

“Sembahyang King Hoo Ping ini merupakan salah satuu sembahyang yang dilakukan Umat Khonghucu dalam satu tahun. Ini dillaksanakan bulan tujuh Imlek satau saat ini,” terang Rohaniawan MAKIN Solo, Adjie Chandra usai memimpin sembahyang, Minggu (6/9/2015).

Ada sebuah cerita dalam bulan tujuh Imlek ini, yang mana pintu akherat dibuka lebar-lebar, selama satu bulan roh-roh yang ada di akherat dipersilahkan turun ke bumi untuk menengok keluarga atau generasi selanjutnya.

Maka yang dibumi itu menyiapkan untuk upacara sembahyang untuk menghormati dan mengenang roh-roh tersebut, yang mana biasanya diadakan tanggal 15 bulan tujuh Imlek. Diakhir bulan tujuh Imlek yang biasanya jatuh pada tanggal 29 bulan tujuh Imlek atau 12 September roh-roh harus kembali ke asalnya.

Ada satu cerita juga mungkin roh yang datang itu terlalu banyak sementara sesaji yang dihidangkan kurang maka roh-roh tersebut kadang berebut maka ibadah ini juga disebut sembahyang rebutan

“Makanya untuk mengenang roh yang datang ke bumi itu dilaksanakan sembahyang King Hoo Ping. Sajiannya itu berupa makanan dan minuman, maknanya untuk mengenang seolah-olah memperlakukan seperti saat masih hidup maka suasana ketulusan, hormat dan khidmat dalam sembahyang ini,”paparnya.

Untuk di Solo, lanjut dia, diadakan pada hari Minggu ini. Karena yang paling dekat dengan akhir bulan tujuh Imlek, ini juga karena banyak umat Khonghucu yang libur kegiatan. Dari tahun ke tahun masyarakat di Solo cukup simpatik, ada juga yang titip nama karena tidak bisa ikut sembahyang yang jumlahnya itu mencapai 400 nama yang ditulis dalam kertas.

“Di Solo diadakan Minggu ini karena kalau Minggu depan sudah masuk bulan delapan Imlak dan itu tidak boleh. Yang titip doa juga banyak ditulis dikertas karena tidak bisa ikut sembahyang,” sambungnya.

Adji Chandra menambahkan, jika kegiatan ini untuk mengingatkan masyarakat asal usulnya untuk sesalu mengingat dan mengenang leluhurnya.

“Kami juga memberikan mereka untuk sembahyang pribadi sesuai apa yang didoakan tidak perlu sama seperti yang saya ucapkan tadi. Sembahyang ini untuk mengingat jangan lupa dengan asal-usulnya dan jangan melupakan leluhur,” pungkas dia.

Ari Welianto