JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Dituduh Kampanye di Balaikota, Rudy: Saya Hanya Bicara Bagaimana Hidup Sehat

Dituduh Kampanye di Balaikota, Rudy: Saya Hanya Bicara Bagaimana Hidup Sehat

82
BAGIKAN
Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Solo dari PDI Perjuangan, FX Hadi Rudyatmo dan Ahmad Purnomo saat hendak mendaftar ke KPU Solo, Minggu (27/7/2015) | Tribun Jateng/Suharno
Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Solo dari PDI Perjuangan, FX Hadi Rudyatmo dan Ahmad Purnomo saat hendak mendaftar ke KPU Solo, Minggu (27/7/2015) | Tribun Jateng/Suharno

SOLO– Calon Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo menjadi pembicara dalam seminar Waspada Obat dan Makanan Ilegal yang di gelar di Balai Tawang Arum, Balaikota Surakarta, Rabu (9/9). Dalam kesempatan tersebut pula, calon walikota Surakarta yang diusung dari PDIP tersebut membantah jika dirinya melakukan kampanye.

Kepada wartawan usai memberikan materi kepada peserta seminar, Rudy mengaku kehadirannya tersebut lantaran dirinya diundang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah untuk menjadi pembicara. Hal ini lantaran dirinya dulu pernah bekerja puluhan tahun di sebuah pabrik obat dan makanan di Sukoharjo.

“Saya itu datang kesini karena diminta untuk menjadi pembicara. Sesuai kapasitas saya yang dulu pernah bekerja di pabrik obat dan makanan, sehingga saya lebih memberikan materi tentang ciri-ciri makanan dan obat yang legal dan tips hidup sehat,” kata Rudy.

Kemudian ketika disinggung apakah Rudy tidak takut diperingatkan oleh Panwaslu terkait dengan dirinya yang menjadi pembicara dalam seminar? Rudy pun menjawab bahwa apa yang dilakukannya tersebut bukanlah sebuah kampanye.

“Tadi saat memaparkan materi saya tidak mengajak untuk memilih saya, saya tidak menyampaikan visi misi sehingga tidak bisa disebut kampanye. Ngapain harus takut, jelas tadi saya hanya menyampaikan bagaimana hidup sehat itu,” kata Rudy.

Bahkan Rudy menghimbau kepada Panwaslu untuk berpikir dewasa. Sehingga Panwaslu ini harus benar-benar tahu bagaimana itu kampanye.

“Panwaslu harus bisa milah dan milih. Mosok layat dianggap kampanye, jagong dianggap kampanye, lha apa pasangan calon hanya disuruh duduk berdiam diri di rumah,” kata Rudy.

Bahkan Rudy juga menyesalkan sikap Panwaslu yang menuduh lurah Pucang Sawit dan Camat Jebres yang tidak netral sebagai seorang PNS.

“Panwaslu itu jangan hanya mencari kesalahan saja,” ujar Rudy.

Rudy menambahkan, di masa-masa kampanye seperti ini, Rudy memang banyak menerima undangan untuk mengisi seminar. Namun bukan atas nama pasangan calon walikota, melainkan sebagai masyarakat umum.

“Banyak undangan yang datang dan mengundang hadir di seminar-seminar. Tapi bukan kapasitas sebagai calon walikota tapi sebagai tokoh masyarakat atau masyarakat umum,” kata Rudy.

Tambah Rudy, saat ini dirinya cenderung semeleh. Bahkan Rudy juga menghimbau kepada seluruh tim kampanyenya untuk sebisa mungkin tidak melanggar aturan dan tidak protes.

“Saya itu orangnya semeleh, bahkan ketika nanti kalah pun saya tidak apa-apa,” pungkas Rudy.

Dwi Hastuti