JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Gatot Mengancam Akan “Bernyanyi” untuk Kasus Korupsi Kolam Renang Gemolong

Gatot Mengancam Akan “Bernyanyi” untuk Kasus Korupsi Kolam Renang Gemolong

288
ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN– Kasus dugaan korupsi proyek kolam renang Sekolah Berstandar Internasional (SBI) Gemolong tahun 2008 yang menyeret eks Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Gatot Supadi dan anggota DPRD Sragen, Edy Harjono bakal semakin panas.

Gatot yang merasa dikorbankan, mengaku siap buka-bukaan soal aliran uang dan keterlibatan sejumlah pejabat teras kala itu.

Gatot bahkan tak segan mencokot mantan Bupati Sragen, UW, yang kala itu juga masuk dalam struktur besar kepanitiaan pelaksanaan megaproyek dari dana APBN 2008 senilai Rp 2 miliar tersebut. Hal itu disampaikan melalui kuasa hukumnya, Mugiyono kepada Joglosemar, Minggu (13/9/2015).

Mugiyono mengungkapkan siap tidak siap, kliennya memang akan menjalani dan menghadapi apa yang disangkakan terkait perkara tersebut. Akan tetapi, pihaknya juga sudah menyiapkan beberapa bukti yang akan mengungkapkan keterlibatan sejumlah pejabat teras pada rezim pemerintahan 2006-2011 dan turut menerima aliran uang dari proyek SBI Gemolong.

Selain diyakini ikut menerima aliran uang, para pejabat itu juga akan diseret karena masuk dalam struktur kepanitaan besar pelaksanaan proyek SBI Gemolong. Mulai dari Kabid di Dinas Pendidikan, ketua dewan pendidikan, mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), mantan Sekda hingga mantan bupati.

“Jadi dulu itu ada SK dari bupati untuk panitia besar untuk proyek SBI itu. Paling atas tentu Bupati, dibawahnya ada Sekda, Kepala DPU dan lain-lain, termasuk Pak Gatot selaku Kepala Dinas Pendidikan. Nanti akan kita buka semuanya di persidangan. Siapa-siapa saja karena uangnya waktu itu ada yang mengalir ke pejabat-pejabat itu,” ujarnya.

Perihal potongan sebesar 25 % dari total dana yang dulu sempat disebut-sebut sebagai upeti untuk setoran ke atas, Mugiyono mengaku baru akan membeberkan jika sudah tiba saatnya. Yang jelas, pihaknya tetap akan berupaya melakukan pembelaan lantaran menilai kliennya tak sepenuhnya bersalah mengingat ada penanggungjawab lebih tinggi yang harusnya menanggung perkara ini.

“Termasuk bendahara dan sekretaris pelaksananya,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kajari Sragen, Victor Saut Tampubolon enggan mengomentari dan memilih melihat nanti fakta-fakta di persidangan. Terkait penetapan tersangka untuk Gatot dan Edy, menurutnya karena keduanya secara materiil memang terlibat dan bertanggungjawab karena posisinya sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan.

“Kita lihat saja nanti di persidangan. Bisa jadi juga mungkin ada fakta baru yang selama penyidikan belum diungkapkan oleh saksi-saksi. Sepanjang bisa dibuktikan materiil, pasti akan ditindaklanjuti,” tandasnya.

Wardoyo

BAGIKAN