JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Ini Kisah Terbaru Satinah, TKW yang Lolos dari Hukuman Pancung

Ini Kisah Terbaru Satinah, TKW yang Lolos dari Hukuman Pancung

102
BAGIKAN
Satinah kini bisa tersenyum kembali. Foto: Tribun Jateng/Deni Setiawan
Satinah kini bisa tersenyum kembali. Foto: Tribun Jateng/Deni Setiawan

SEMARANG- Senyum riang, tanpa beban, begitu tampak saat Tribun Jateng kembali berkunjung ke kediaman keluarga besar Satinah, tenaga kerja wanita (TKW) yang lolos hukuman pancung di Arab Saudi, Rabu (9/9/2015).

Sejak bangun tidur hingga menjelang siang, Satinah lebih banyak menghabiskan waktu untuk bercanda dan bercengkerama bersama keluarga dan sejumlah tetangga di teras rumah bercat abu-abu itu.

Sembari duduk di kursi roda, Satinah yang mengenakan kemeja warna merah muda dan berjilbab hitam kerap menyapa tetangga yang melintas.

Sesekali pula ia melempar senyum saat anggota keluarga mengajaknya bercanda. Cukup lancar saat anak ragil dari enam bersaudara itu diajak berbicara, meskipun masih lirih dalam berucap.

Wajah fresh sangat tergambar. Berbeda jauh saat dia baru tiba di kediamannya di Dusun Mrunten Wetan RT 02 RW 03, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Selasa (8/9) petang.

Rasa lelah seusai menempuh perjalanan dari Jakarta menuju ke Kabupaten Semarang maupun menjalani perawatan selama sepekan di RS Polri Jakarta, terbayar setibanya di rumah dan berkumpul bersama keluarga.

Satinah (42) berucap, belum banyak aktivitas yang dia lakukan sejak bangun tidur hingga siang hari. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, berkeliling menyaksikan perubahan-perubahan di rumah seperti kamar, dapur dan ruang keluarga.
“Tadi malam setibanya di rumah belum sempat berkeliling. Saya diminta untuk beristirahat. Seusai makan dan minum obat, saya tidur. Tidur sekitar pukul 21.00, ditemani kedua kakak saya yakni Namirah dan Sugiman. Pulas kok, bangun tengah malam karena ingin kencing saja,” ujar Satinah lirih.

Dia bersyukur, penantian panjang serta doanya terwujud. Dia dapat kembali berkumpul bersama keluarga dan secara bertahap ingin memulihkan sakit stroke ringan yang dideritanya sejak berada di Arab Saudi. Ia ingin kembali beraktivitas normal dan menata kehidupan barunya.

“Secara kesuluruhan kesehatan saya jauh lebih baik sejak tiba di sini, di rumah yang sudah saya tinggalkan hampir 10 tahun lalu. Sekarang hanya sering merasa kaki kiri lemas dan pegal-pegal. Semoga saja bisa cepat pulih. Begitu sembuh total, ada beberapa keinginan yang ingin saya wujudkan,” jelas ibunda Nur Afriana (21) itu.

Keinginan Satinah di antaranya adalah membuka kursus menjahit dan menyulam bagi warga setempat. Dia ingin kembali menularkan keterampilan yang telah dimiliki sebelum pergi menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Selama di penjara di Arab Saudi, keterampilan Satinan makin terasah dalam membuat sajadah, mukenah, tas, baju, selendang, hingga taplak meja.

“Saat sore atau malam hari saya juga ingin anak-anak di dusun ini dan para tetangga, belajar menghafal Alquran bersama-sama. Saat di Arab Saudi, saya sudah bisa menghafal sekitar 20 juz. Itu akan terus saya ulang hingga bisa khatam berkali-kali. Semoga Tuhan mengizinkan saya pulih sehingga bisa bekerja, berjalan, dan mewujudkan keinginan itu,” harap Satinah.

Tribunjateng