Jelang Grebeg Besar, Nyai Setomi Dijamasi

Jelang Grebeg Besar, Nyai Setomi Dijamasi

54
JAMASAN NYAI SETOMI--Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membersihkan area di sekitar tempat penyimpanan Meriam Nyai Setomi  saat digelar Jamasan Nyai Setomi di Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (13/1). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
JAMASAN NYAI SETOMI–Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membersihkan area di sekitar tempat penyimpanan Meriam Nyai Setomi saat digelar Jamasan Nyai Setomi di Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta, Rabu (23/9/2015). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO– Kepulan asap kemenyan berbaur semerbak harum bunga sesaji, mengiringi lantunan doa para ulama Keraton Kasunanan Surakarta. Dibelakang ulama tersebut, terlihat duduk bersimpuh para emban dan abdi dalem Keraton lainnya, dengan khidmat mengikuti jalannya ritual.

Ya, itulah tadi sekelumit gambaran suasana prosesi awal jamasan (penyucian-red) meriam pusaka Nyai Setomi, di Balai Witana Sitinggil Keraton Kasunanan Surakarta, Rabu (23/9/2015) siang.

Prosesi jamasan meriam tersebut dipimpin langsung Wakil Raja Keraton Surakarta, KGPH Puger.

“Ini termasuk salah satu agenda wajib, karena merupakan Hajat Dalem Keraton Surakarta. Jamasan setahun berlangsung beberapa kali,” ungkap Gusti Puger.

Baca Juga :  Dana Hibah Keraton Kasunanan Surakarta Tertahan, Ini Sebabnya

Jamasan meliputi penyucian Bale Manguneng atau tempat penyimpanan meriam, penggantian singeb atau kain penutup meriam, dan yang terakhir pemberian sangsangan atau untaian bunga melati, di bagian kepala meriam yang menghadap ke selatan tersebut.

Nyai Setomi merupakan meriam pusaka pemberian bangsa Portugis kepada Pangeran Jayakarta dari Batavia, di era Kasultanan Demak Bintoro pada abad 15 M. Nyai Setomi tak sendiri, melainkan berpasangan dengan meriam Kyai Setomo, yang konon suaranya jauh lebih keras dan bergemuruh.

Baca Juga :  Taman Balekambang Tambah Kapasitas Panggung Terbuka

Di era pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusumo pada abad 16 M, sepasang meriam tersebut diboyong ke keraton Mataram Islam di Kota Gede.

“Namun karena suatu hal, Kyai Setomo dipulangkan ke Batavia dan berganti nama menjadi Kyai Si Jagur, yang sampai sekarang masih disimpan di museum Fatahillah Jakarta,” jelas Puger.

Atas dasar riwayat itulah, maka ketika Keraton Surakarta berdiri pada abad 17 M, Nyai Setomi pun dibawa dan dirawat hingga sekarang, sebagai simbol keagungan Keraton Surakarta.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya

BAGIKAN