JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kejaksaan Klaten Limpahkan Berkas Sarjono ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang

Kejaksaan Klaten Limpahkan Berkas Sarjono ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang

343
BAGIKAN
ilustrasi sidang
ilustrasi sidang

KLATEN – Kejaksaan Negeri (Kajari) Klaten, Selasa (8/9/2015) melimpahkan satu berkas tersangka, yakni mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Klaten Sarjono ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Semarang.

Sarjono menjadi tersangka karena diduga melakukan korupsi dana proyek pemutakhiran data di Disdukcapil Klaten pada 2008 lalu. Atas tindakkan tersangka kerugian negara akibat kasus korupsi itu mencapai Rp1,594 miliar dari total nilai proyek Rp3,805 miliar.

Kasie Pidana Khusus (Kasie Pidsus) Kejari Klaten, Nurul Anwar mengatakan, untuk tersangka yakni Sarjono, saat ini masih ditahan di Lapas Klaten, karena Lapas Kedungpane Semarang sudah penuh.

“Terpaksa, nanti saat persidangan dimulai tersangka harus pulang pergi Lapas Klaten – Pengadilan Tipikor Semarang, karena Lapas di Semarang sudah penuh,”imbuhnya.

Sebelumnya, terungkapnya kasus korupsi tersebut dari laporan Badan Pemeriksa Keuangan Pusat (BPKP) pada 2009. Kajari Klaten juga mengembangkan informasi tersebut, hingga soal pengembalian dana Rp295 juta kepada kas daerah Kabupaten Klaten.

Pengembalian itu dilakukan keempat pejabat teras yaitu Bupati Klaten Sunarna, Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Indarwanto, mantan Kepala Bappeda Klaten yang kini menjabat sebagai Asisten Pemerintahan Setda Klaten Bambang Sigit, dan mantan Kepala Dishub yang kini menjabat sebagai Sekda Klaten Jaka Sawaldi.

Sedangkan proyek pemutakhiran data di Disdukcapil Klaten berlangsung pada 2008. Modus tindak pidana korupsinya yaitu pembayaran proyek dilakukan secara langsung. Seharusnya pembayarannya dengan menggunakan sistem Uang Yang Harus Dibayarkan (UYHD).

Bukti-bukti pertanggungjawabannya diduga direkayasa. Proyek itu juga melibatkan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai rekanan.

Dani Prima