JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kemarau Panjang, 54 Hektare Sawah di Karanganyar Gagal Panen

Kemarau Panjang, 54 Hektare Sawah di Karanganyar Gagal Panen

129
BAGIKAN
Salah satu waduk yang berada di Kecamatan Karanganyar Kota mengering | Foto: Joglosemar/Rudi Hartono
Salah satu waduk yang berada di Kecamatan Karanganyar Kota mengering | Foto: Joglosemar/Rudi Hartono

KARANGANYAR – Dampak kekeringan yang melanda sejumlah pertanian yang ada di kabupaten Karanganyar, mengakibatkan 54 hektar sawah gagal panen.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Jawa Tengah, Dwi Susilarto, saat ditemui wartawan Selasa (22/9/2015) menjelaskan, dampak musim kemarau yang terjadi saat ini memang berpengaruh besar terhadap tanaman di Kabupaten Karanganyar khususnya padi.

Dari data yang ia peroleh bahwa di Kabupaten Karanganyar, luas lahan yang ditanami padi sampai tanggal 15 Sepetember 2015 atau masa tanam kedua yang ditanami dari bulan mei sampai dengan masa panen bulan Sepetember, seluas kurang lebih 9.446 hektar.

Dan mengalami kekeringan ringan sebanyak 232 hektar, kekeringan sedang sebanyak 33 hektar, dan kekeringan berat sebanya 12 hektar, dan gagal panen atau Puso sebanyak 54 hektar, yang tersebar di 3 wilayah.

“Kalau yang puso itu tersebar di 3 wilayah, diantaranya yakni 30 hektar berada di wilayah Banjarharjo, 17 hektar di wilayah Alastuo, Kebakaramat, dan Wilayah Poseban, Jumapolo,” kata Dwi.

Lebih lanjut diungkapkan Dwi, dari catatan yang ia dapat. Kabupaten Karangnyar, meskipun terdampak musim kemarau. Pemerintah setidaknya masih bisa menyelamatkan sebanyak 277 hektar lahan yang ditanami padi yang bisa dipanen.

“Pemerintah sudah mengupayakan, semua program baik itu pengoncoran benih, ataupun pemberian alat pertanian atau pompoanisasi kesejumlah lahan pertanian milik warga,” terangnya.

 Disisi lain, Sugiyanto (50), salah satu petani asal Tasikmadu, yang menggarap sawah di seputran jalan Kebakramat – Tasikmadu, mengungkapkan, bahwa saat ini pihaknya sudah bersiap – siap untuk mengahadapi masa tanam ke tiga. Sugiyanto, mengaku musim kemarau yang terjadi tahun ini memang dirasa berat oleh petani.

Pasalnya, untuk mengairi lahan persawahan saja, ia harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak untuk keperluan pembelian bahan bakal alat pompa air.

“Ya kalau dikatakan cucuk po ora (sesuai atau tidak), ya nggak cucuk mas, biasanya kalau pada masa tanam sebelumnya itu labanya bisa mencapai Rp 2 juta, tapi karena musim kemarau dan airnya sulit, labanya habis untuk mebeli bahan bakar pompa air itu, padahal kalau semalam itu untuk 1 pthok saja, 8 liter habis, itupun belum pasti airnya merata mas,” kata Sugiyanto.

Meskipun, pada musim tanam sebelumnya ia gagal panen, namun sugiyanto dan sejumlah teman-temannya berharap, kalaupun nanti di bulan 10 sudah masuk musim penghujan, maka tanaman padi mereka bakal bisa panen.

“Ya kalau nanti bulan 10 itu sudah hujan, kelihatnnya akan normal mas, kalau untuk tanam, tanaman yang lain kecuali padi belum bisa mas, karena padi itukan harga jualnya masih mahal,” paparnya.

Rudi Hartono