JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kenali Gejala Dini Intrauterine Growth Restriction

Kenali Gejala Dini Intrauterine Growth Restriction

97
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

SOLO– Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr Soffin Arfian, SpOG mengungkapkan janin kecil bisa menjadi salah satu gejala Intrauterine Growth Restriction (IUGR).

Apa itu IUGR? Dijelaskannya, IUGR adalah sebuah kondisi di mana adanya keterlambatan pertumbuhan pada janin. Singkat kata, janin memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan dengan usianya. Dengan kata lain, tidak ada kesesuaian antara berat janin dengan usianya.

Kenapa bisa seperti itu? Soffin mengungkapkan ada beberapa faktor yang menyebabkan janin mengalami IUGR. Pertama, asupan nutrisi ibu hamil kurang sehingga berpengaruh pada penyerapan nutrisi pada janin.

Faktor kedua, adanya masalah dalam pembuluh darah dalam hal ini plasenta yang menjadi kunci penyaluran nutrisi dan oksigenasi ke janin yang ada di rahim.

“Nah, kalau membicarakan masalah pembuluh darah, ada banyak kemungkinan. Bisa karena faktor kekentalan darah sang ibu atau dalam bahasa medis disebut Antiphospholipid Syndrome (APS). Bisa juga karena kondisi plasenta yang mengalami pengapuran,” katanya.

Masalah dalam plasenta tersebut membuat nutrisi dan oksigen tidak terdistribusikan secara maksimal sehingga janin mengalami keterhambatan dalam perkembangannya.

Selain itu, IUGR juga bisa dipicu oleh penyakit kronis yang diderita oleh sang ibu. Misalkan saja Diabetes Melitus (DM), pre eklamsi, asma, dan lainnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan IUGR ada dua jenis yakni kronis dan akut. Dikatakan kronis jika kondisi itu terjadi sejak awal kehamilan. Hal itu menyebabkan ukuran janin secara keseluruhan kecil namun proporsional. “Artinya, tulang paha dan organ-organnya kecil. Berbeda dengan IUGR yang sifatnya akut. Di mana, sebuah kondisi UIGR terjadi pada pertengahan/ masa kehamilan. Ini mengakibatkan badan janin besar namun kondisinya seperti bayi busung lapar,” katanya.

Janin IUGR kronis akan lebih mudah untuk penanganan karena memiliki ukuran badan dan organ yang kecil. Bayi tersebut akan dibesarkan dalam inkubator untuk memperbesar berat badannya. Berbeda dengan IUGR akut. Kasus-kasus yang ada menunjukkan bayi lahir dengan kondisi IUGR akut terkadang memiliki masalah masalah pada organ dalamnya.

“IUGR akut jauh lebih sulit penanganannya,” tegasnya.

Pertanyaannya, apakah bayi dengan IUGR bisa lahir pada usia sembilan bulan? Soffin kembali menegaskan hal itu tergantung pada kondisi janin yang ada di dalam kandungan. Jika dokter bisa mengetahui penyebabnya dan melakukan terapi pada ibu hamil, maka bayi bisa saja tumbuh normal kembali dan lahir di usia sembilan bulan.

Sebaliknya, jika kondisi janin tidak mengalami perkembangan, maka mau tidak mau bayi harus dilahirkan secepatnya dan dibesarkan di inkubator. “Jadi, bisa lahir di usia sembilan bulan atau bahkan prematur,” katanya.

Namun, dalam beberapa kasus IUGR berakhir dengan Intra Uterne Fetal Death(IUFD), yakni kematian janin saat berada di kandungan. Oleh karena itu, butuh penanganan ekstra bagi janin IUGR sehingga bisa dilahirkan dengan selamat.

Pertanyaannya, apa bedanya bayi IUGR dengan prematur. Bayi dikatakan IUGR jika tidak ada kesesuaian antara berat badan dengan usia kehamilan. Sedangkan disebut prematur jika berat badan janin proporsional dengan usianya.

“Bayi sama-sama kecil tapi memang beda kasus. Kalau prematur biasanya memiliki masalah para kematangan paru-paru. Oleh karena itu, jika bayi prematur lahir biasanya diberikan obat agar mematangkan organ paru-parunya. Kalau UGR bisa saja paru-parunya matang hanya saja ukurannya memang kecil,” katanya.

Murniati