Mega Sayangkan Solo Techno Park Belum Mandiri

Mega Sayangkan Solo Techno Park Belum Mandiri

125
Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo KUNJUNGAN MEGAWATI--Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri (tiga dari kanan) didampingi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo dan Anggota Komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka (kanan) berbincang dengan salah satu siswa saat berkunjung ke Solo Techno Park, Selasa (29/9). Dalam kunjungannya tersebut, Megawati juga berdialog dengan pengusaha batik di Kota Surakarta dan berbincang tentang kesiapan pengusaha batik menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia.
Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
KUNJUNGAN MEGAWATI–Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri (tiga dari kanan) didampingi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo dan Anggota Komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka (kanan) berbincang dengan salah satu siswa saat berkunjung ke Solo Techno Park, Selasa (29/9). Dalam kunjungannya tersebut, Megawati juga berdialog dengan pengusaha batik di Kota Surakarta dan berbincang tentang kesiapan pengusaha batik menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia.

SOLO- Mantan Presiden Republik Indonesia (RI), Megawati Soekarnoputri menyayangkan Solo Techno Park (STP) yang menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri, yaitu Jerman. Ia khawatir, Jerman hanya akan memanfaatkan potensi yang dimiliki Indonesia untuk kepentingan negara tersebut.

Hal itu dikatakan Megawati saat berkunjung ke STP, Selasa (29/9). Mega mengatakan, negara maju seperti Jerman mau bekerja sama dengan Indonesia pasti akan memanfaatkan potensi yang dimiliki Indonesia. “Sayang jika harus kerja sama dengan Jerman. Pasti Jerman ini memiliki keinginan untuk memiliki potensi yang kita miliki,”terang Mega.

Menurutnya, Indonesia harus bisa mencontoh pengembangan penelitian yang ada di Kuba. Banyak negara asing yang menginginkan pengembangan penelitian yang dimiliki negara Kuba. Sebab di sana potensi penelitian dikembangkan dengan rapi mulai dari hulu menuju hilir.

“Kita harus lihat dulu. Kalau kita ingin mengembangkan batik natural harus dilihat dulu hulunya. Tanaman apa yang dijadikan pewarna, sudah siap atau belum untuk diproduksi secara masal. Baru nantinya hilirnya bisa dipelajari,” imbuh Mega.

Mega juga menyayangkan kebiasaan bangsa ini yang tidak mempunyai budaya mencatat. Sehingga selama ini ingatan mengenai ilmu dan materi yang didapat hanya terbatas pada ingatan saja. Maka dari itu ia mengimbau kepada pejabat eselon hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus bisa mempunyai kebiasaan mencatat kemajuan pekerjaannya.

Apalagi saat ini Indonesia sudah harus menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang hanya kurang dua bulan. Untuk melakukan kerja sama jual beli barang, saat ini mulai dari pejabat daerah harus bisa mendata potensi yang dimiliki daerahnya.

Setelah itu barang yang sudah ada di daerah dan negara ini tidak boleh didatangkan dari negara lain.
“Pasar bebas ini ada aturannya. Kalau barang atau produk tersebut sudah ada di dalam negeri, maka jangan didatangkan dari negara lain. Kalau nekat didatangkan, maka itu bisa mematikan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Mega menekankan perlindungan hasil industri bukan hanya dilakukan oleh pemerintah pusat saja. Mulai dari daerah harus bisa melindungi potensi industrinya dan upaya melakukan inventarisasi pada hasil bangsa Indonesia.

Sedangkan Direktur STP, L Sumadi menjelaskan bahwa saat ini pengembangan STP sudah mencapai 30 persen. Sejak diluncurkan pada 2009 lalu, saat ini tiap tahun STP bisa menghasilkan 500 orang tenaga ahli. Diharapkan pada 2019 mendatang, pembangunan STP bisa rampung hingga 100 persen sehingga bisa menghasilkan lebih banyak tenaga ahli lagi.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR