JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Megawati: Seharusnya Solo Techno Park Bisa Mandiri

Megawati: Seharusnya Solo Techno Park Bisa Mandiri

0
BAGIKAN
Solo Techno Park | Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
Solo Techno Park | Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO –Megawati Soekarno Putri menyayangkan pihak Solo Techno Park (STP) yang harus bekerjasama dengan luar negeri, dalam hal ini Jerman. Seharusnya potensi yang dimiliki oleh STP bisa dikembangkan secara mandiri dan tentunya hasilkan akan menjadi lebih baik.

Demikian disampaikan Megawati Soekarno Putri saat melakukan kunjungan di STP pada, Selasa (29/9/2015). Mega mengatakan, negara maju seperti Jepang mau bekerjasama dengan Indonesia pasti akan memanfaatkan potensi yang dimiliki Indonesia.

”Sayang jika harus kerjasama dengan Jerman. Pasti Jerman ini memiliki keinginan untuk memiliki potensi yang kita miliki,”terang Mega.

Lanjut Mega, selama ini Indonesia harus bisa mencontoh pengembangan penelitian yang ada di Kuba. Banyak negara asing yang menginginkan pengembangan penelitian yang dimiliki negara Kuba. Sebab disana potensi penelitian dikembangkan dengan rapi mulai dari hulu menuju hilir.

”Kita harus lihat dulu, kalau kita ingin mengembangkan batik natural harus dilihat dulu hulunya. Tanaman apa yang dijadikan pewarna, sudah siap atau belum untuk diproduksi secara masal. Baru nantinya hilirnya bisa dipelajari,” imbuh Mega.

Kemudian Mega juga menyayangkan kebiasaan bangsa ini yang tidak mempunyai budaya mencatat. Sehingga selama ini ingatan mengenai ilmu dan materi yang didapat hanya terbatas pada ingatan saja. maka dari itu dirinya menghimbau mulai dari pejabat eselon hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus bisa mempunyai kebiasaan mencatat progress pekerjaannya.

Apalagi saat ini Indonesia sudah harus menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang kurang dua bulan. Untuk melakukan kerjasama jual beli barang, saat ini mulai dari pejabat daerah harus bisa mendata potensi yang dimiliki daerahnya. Setelah itu barang yang sudah ada di daerah dan negara ini tidak boleh didatangkan dari negara lain.

”Pasar bebas ini ada aturannya. Kalau barang atau produk tersebut di dalam negeri sudah ada, maka jangan didatangkan dari negara lain. Kalau nekat didatangkan, maka itu bisa mematikan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Mega menekankan perlindungan hasil industri bukan hanya dilakukan oleh pemerintah pusat saja. Mulai dari daerah harus bisa melindungi potensi industrinya dan upaya melakukan inventarisasi pada hasil bangsa Indonesia.

Sedangkan Direktur STP L. Sumadi menjelaskan bahwa saat ini pengembangan STP sudah mencapai 30 persen. Sejak dilaunching pada 2009 lalu, saat ini tiap tahun STP bisa menghasilkan 500 orang tenaga ahli tiap tahunnya. Diharapkan pada 2019 mendatang, pembangunan STP bisa rampung hingga 100 persen. Dengan begitu diharapkan bisa menghasilkan lebih banyak tenaga ahli lagi.

Dwi Hastuti