Melemahnya Rupiah Belum Berimbas di Klaten

Melemahnya Rupiah Belum Berimbas di Klaten

71
MENJELANG HARI BURUH-- Sejumlah buruh PT Sari Warna Asli keluar dari pabrik di Pucangsawit, Solo, Selasa (29/4). Untuk memastikan tidak ada buruh yang dipekerjakan perusahaan di hari peringatan buruh internasional (May Day) pada Kamis (1/5) besok, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Surakarta mengancam akan melakukan aksi sweeping ke perusahaan.  Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
Ilustrasi

KLATEN – Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika belum berimbas pemutusan hubungan kerja (PHK) di Klaten. Bahkan sejumlah perusahaan di Klaten malah membuka lowongan kerja.

Kabid Tenaga Kerja, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Klaten, Kusnin Supriyadi menuturkan, dirinya belum mendapat ada PHK besar-besaran oleh perusahaan di Klaten karena efek melemahnya nilai rupiah.

Malahan, lanjutnya,di awal September ini ada delapan perusahaan yang ada di Klaten membuka lowongan dengan total 4.370 untuk para pencari kerja (Pencaker).

“Paling banyak untuk perusahaan garmen yang membutuhkan operator mesin jahit, karena ada tiga perusahaan garmen di Klaten yang baru berdiri, yakni di Ceper dan Karanganom,”imbuhnya, Jumat (11/9).

Kusnin melanjutkan, sedangkan pencaker di Klaten dari Januari hingga Agustus 2015 berjumlah 5.637 orang, dengan rincian 2.967 laki-laki dan 418 wanita. “Jadi kita berharap tidak ada PHK besar-besaran di 798 perusahaan yang ada di Klaten ini,”imbuhnya.

Baca Juga :  Ini Semangat Juang Penderita Kanker Payudara yang Patut Diapresiasi

Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Klaten, Sukadi, juga berharap tidak ada PHK besar-besaran di Klaten karena efek dari melemahnya nilai rupiah beberapa waktu ini.

Menurutnya, bila terjadi PHK besar-besar di Klaten akan menimbulkan masalah sosial yang kemudian berimbas kepada situasi ekonomi dan keamanan di Klaten.

“Yang kami catat ada sebanyak 39.901 pekerja yang bekerja di Klaten sendiri, dan ratusan ribu warga Klaten yang bekerja diluar Klaten. Bila separuhnya saja kena PHK bisa timbul kerawanan sosial,”tuturnya.

Baca Juga :  Perenang Muda Kota Solo Pilih Konsentrasi ke Jakarta

Oleh karena itu, ia berharap, agar pemerintah segera melakukan langkah-langkah perbaikan ekonomi dan perbaikan nilai rupiah.

“Pemerintah harus melakukan langkah-langkah konkret perbaikan. Walaupun PHK belum terjadi, namun para pekerja juga merasa khawatir, bila nanti efek melemahnya rupiah juga berpengaruh terhadap mereka,”jelasnya.

Selain itu, Sukadi juga meminta kepada Dinsosnakertrans Klaten untuk lebih memperhatikan para pekerja laki-laki, karena lowongan kerja yang ada di Klaten kebanyakkan ditujukan untuk tenaga kerja wanita.

“Saya harap Dinsosnakertrans mau memberikan arahan dan perhatian kepada pekerja laki-laki di Klaten, semisal informasi lowongan kerja bagi pekerja laki-laki yang tidak hanya di Klaten saja. Karena di Klaten kebanyakkan perusahaan garmen yang lebih memilik mempekerjakan pekerja wanita,”pungkasnya.

Dani Prima

BAGIKAN