JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Mengenal Gejala Tetanus

Mengenal Gejala Tetanus

111
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

SELAMA ini, banyak yang menganggap penyebab penyakit tetanus disebarkan melalui media besi yang berkarat. Padahal sebenarnya tak cuma itu saja. Tetanus bisa disebarkan melalui  tanah, rumput, kayu, kotoran hewan maupun kotoran manusia.

Dokter Umum RS Kasih Ibu Surakarta, dr Leon Normantara mengungkapkan,  tetanus merupakan penyakit infeksi akut yang menunjukkan diri dengan gangguan neuromuskular akut berupa trimus, kekakuan dan kejang otot.

Tetanus bisa terjadi sebagai komplikasi dari luka, baik besar atau  kecil, luka nyata maupun tersembunyi. Jenis luka yang mengundang tetanus adalah luka-luka seperti luka robek (Vulvus lacentarum),  luka tusuk (Vulvus punctum),  luka bakar (cumbustion), fraktur terbuka, otitis media, luka terkontaminasi dan tali pusat.

“Infeksi ini disebabkan oleh Clostridium tetani, sejenis kuman gram positif yang dalam keadaanbiasa berada di dalam bentuk spora dan dalam suasana anaerob mebrubah menjadi vegetatif yang memproduksi eksotokin antara lain neurotoksin dan tetanolysmin. Toksin inilah yang menimbulkan gejala tetanus. Masa inkubasinya antara delapan hingga 12 hari. Tapi ada pula yang hanya membutuhkan dua hari atau beberapa Minggu bahkan bulan,” katanya kepada Joglosemar.

Leon menambahkan masyarakat terpaku pada media penularan tetanus, yakni besi. Padahal spora Clostridium tetani juga terdapat pada kasus yang paling banyak, tetanus menginfeksi seseorang bagian kaki.

Hanya saja, ada juga bagian tubuh lain yang bisa terkena spora Clostridium tetani. Sedangkan dari sisi kematian penderita tetanus, angkanya sangat tinggi sekitar 50 persen.

Dikatakan, ada gejala khas tetanus yang tidak ditemukan pada penyakit lainnya. Pertama, pasien akan mengalami rasa sakit pada luka diikuti trismus (kaku rahang, sukar membuka mulut lebar-lebar), rhisus sardonicus (wajah setan). Pasien akan mengalami kaku buduk, kaku otit perut, gaya berjalan khas seperti robot, sukar menelan, dan laringospasme.

“Gejala khasnya, tubuh pasien akan kaku seperti papan dan itu berarti sudah memasuki fase kritis. Pada keadaan yang lebih berat akan terjadi epistothonus (posisi chepalic tarsal), di mana pasien akan mengalami kejang dan badannya melengkung. Bila ditelentangkan hanya kepala dan bagian terasa kaku yang menyentuh dasar tempat berbaring,” katanya lagi.

Untuk menghindari fase kritis, seseorang yang mengalami luka harus secepatnya melakukan antisipasi dengan membersihkan luka. Sayangnya, masyarakat berasumsi luka bisa dibersihkan dan dicuci dengan bensin/ alkohol. Padahal itu justru dapat merusak jaringan.

“Pertama kali yang harus dilakukan jika tubuh mengalami luka yakni mencucinya dengan air bersih yang mengalir. Jika mengalami perdarahan, ikat area di sekitar luka dan segera dibawa ke RS untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” tegasnya.

Murniati