JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Mengenal Penyebab Tantrum pada Anak

Mengenal Penyebab Tantrum pada Anak

69
BAGIKAN
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan bercengkrama anak-anak pada kunjungan di Taman Cerdas Gandekan, Solo, Kamis (26/2/2015) | Joglosemar/Mohammad Ayudha
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan bercengkrama anak-anak pada kunjungan di Taman Cerdas Gandekan, Solo, Kamis (26/2/2015) | Joglosemar/Mohammad Ayudha

DEWASA ini stres tidak hanya menyerang orang dewasa dan orangtua. Pasalnya, sekarang ini sudah banyak anak yang menderita stres. Gejala stres pada anak hampir sama dengan orang dewasa. Namun, yang berbahaya pada psikologis anak adalah stres yang nantinya berubah menjadi tantrum.

Apa itu tantrum? Psikolog RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Fitria Sari Budingtyas, Spsi, Psi, MM mengungkapkan tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak, tantrum ini sering terjadi pada usia pra sekolah antara dua hingga empat tahun.

“Yang perlu ditekankan, tantrum ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa. Namun, pada anak-anak tantrum digunakan untuk melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Bisa dari stres atau faktor lainnya,” katanya kepada Joglosemar.

Psikis anak yang mengalami tantrum sedang dalam keadaan tertekan. Dia merasa lepas kendali karena merasa sedang kacau, bingung, dan keinginannya tidak terpenuhi. Karena anak belum bisa mengekspresikan dalam bentuk ucapan, maka pelampiasannya melalui rasa frustasi, stres, dan marah.

“Banyak hal yang membuat anak menjadi tantrum. Yakni stres yang dipicu oleh perasaan diabaikan oleh orangtua. Ini banyak terjadi lantaran orangtua dan pengasuh juga disibukkan dengan pekerjaan rumah, sehingga anak merasa diabaikan dan tidak terlalu penting bagi mereka,” tegasnya.

Stres pada anak juga bisa dipicu oleh banyaknya tugas-tugas dari sekolah. Mereka merasa stres karena kesulitan mengerjakan. Jika itu terus berlanjut, maka bisa bermuara ke tantrum. Pada saat itulah, peran orangtua sangat dibutuhkan.

Oleh karena itu, sesibuk apapun orangtua/ pengasuh, anak harus tetap diperhatikan. Orangtua harus mengenal sikap tantrum sejak dini karena jika dibiarkan maka akan memberikan dampak negatif dalam dirinya sendiri maupun orang lain.

“Orangtua harus tanggap dan menawarkan bantuan untuk menjawab soal-soal yang sulit. Dengan demikian, langkah itulah yang mampu mencegah timbulnya tantrum,” tegasnya.

Faktor kedua yang menyebabkan tantrum adalah ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. Lantaran usianya masih sangat kecil, anak-anak memiliki keterbatasan bahasa. Alhasil, ketika ingin mengungkapkan sesuatu, mereka tidak bisa dan orangtua juga kurang tanggap serta tidak mengerti apa yang diinginkan anaknya. Inilah nantinya membuat anak frustasi dan berubah menjadi tantrum.

Pola asuh anak juga menjadi faktor penyebab tantrum. Fitria mencontohkan anak yang terlalu dimanakan dan mendapatkan apa yang diinginkan, bisa saja mengalami tantrum kerika sekali waktu tidak mendapatkan apa yang dikehendaki. Bahkan, ketika anak berusaha meminta apa yang diinginkan namun orangtua bersikap sebaliknya (menolak, red), maka psikologis anak akan terguncang.

Murniati