JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Meriam Nyai Setomi, Jodohnya Ada di Jakarta

Meriam Nyai Setomi, Jodohnya Ada di Jakarta

327
BAGIKAN
JAMASAN NYAI SETOMI--Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membersihkan area di sekitar tempat penyimpanan Meriam Nyai Setomi  saat digelar Jamasan Nyai Setomi di Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (13/1). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
JAMASAN NYAI SETOMI–Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membersihkan area di sekitar tempat penyimpanan Meriam Nyai Setomi saat digelar Jamasan Nyai Setomi di Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (13/1). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

KENDATI zaman sudah semakin maju, tradisi merahasiakan wujud pusaka di dalam Balai Manguneng hingga kini masih dijaga dengan ketat. Tak satu pun abdi dalem berani menceritakan apa yang ada di dalam ruangan, yang terbuat dari kaca tersebut. Bahkan KGPH Puger, Wakil Raja Keraton Surakarta pun tak berani memerinci ukuran dan bentuk Nyai Setomi.

“Kita semua termasuk saya sudah disumpah untuk tidak menceritakan Nyai Setomi. Jadi memang tidak ada yang berani cerita secara mendetail,” ujar Gusti Puger seusai prosesi jamasan (penyucian) pusaka Nyai Setomi, Rabu (23/9/2015) siang.

Tuntutan menjaga kerahasiaan ini tidak lepas dari kedudukan Nyai Setomi sebagai senjata rahasia Keraton Kasunanan Surakarta pada era PB X.

Sebagaimana dituturkan Gusti Puger, pada waktu itu, politik internasional sedang karut marut dengan adanya perang dunia kedua. Keraton Kasunanan Surakarta sebagai salah satu kekuatan politik internasional yang cukup dipertimbangkan pada saat itu dituntut memiliki sebuah senjata pamungkas yang hanya dikeluarkan ketika kedaulatan negara (Keraton) terancam.

“Sejak era PB X sudah seperti ini, singeb (kain penutup) Nyai Setomi tidak pernah dibuka karena ini merupakan senjata rahasia. Kalau sampai diketahui lawan bisa membahayakan keamanan negara,” beber Puger.

Menurut cerita, Nyai Setomi memiliki pasangan Kyai Setomo. Sepasang meriam tersebut adalah pemberian Pangeran Jayakarta kepada Kasultanan Demak pada abad ke-15. Pada era Kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, sepasang meriam tersebut diboyong ke Keraton Mataram Islam di Kota Gede.

“Namun karena suatu hal, Kyai Setomo dikembalikan ke Jakarta dan dikenal dengan nama Meriam Si Jagur. Sampai sekarang Meriam Si Jagur masih ada di Museum Fatahilah, Jakarta,” ujar Gusti Puger.

Sekitar pukul 10.00 WIB pagi tadi, prosesi jamasan Nyai Setomi diselenggarakan oleh Sentana Dalem Keraton Kasunanan Surakarta. Selama prosesi penyucian tersebut, para abdi dalem dan KGPH Puger yang membersihkan, senantiasa mengusahakan agar kain penutup Nyai Setomi tidak tersingkap karena terikat sumpah untuk menjaga kerahasiaan.

Deniawan Tommy CW