JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Museum Radya Pustaka Disita Pengadilan, Warga dan Budayawan Solo Siapkan Aksi

Museum Radya Pustaka Disita Pengadilan, Warga dan Budayawan Solo Siapkan Aksi

165
BAGIKAN
Museum Radya Pustaka
Museum Radya Pustaka

SOLO – Sengketa Tanah Sriwedari memasuki babak baru.  Sebuah panggilan Pengadilan Negeri Surakarta mendadak muncul dan memerintahkan Pemerintah Kota Solo, Pengelola Museum Radya Pustaka dan Pimpinan Keraton Surakarta untuk mengosongkan Museum, delapan hari setelah tanggal 29 September 2015 mendatang.

“Surat itu datang kemarin, saya yang menerima dan isinya tanggal 29 September kami diminta hadir di Pengadilan untuk mendapatkan teguran, agar paling lambat dalam waktu delapan hari harus memenuhi putusan pengadilan,” tutur Sanyoto, Wakil Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Kamis (10/9/2015).

Purnomo Subagyo, Ketua Komite menambahkan, pihaknya memang sudah mengetahui adanya putusan pengadilan yang memenangkan ahli waris RM Wiryodiningrat di tingkat kasasi.

“Putusannya sudah lama, hanya kok mau eksekusinya pas situasi  ini sedang mau Pilkada, kosong kekuasaan hanya ada pejabat Walikota. Ya sudah, nanti kita lihat seperti apa,” tutur Purnomo.

Yang jelas, surat panggilan itu memicu sejumlah warga dan budayawan Solo untuk bereaksi. Kamis siang ini mereka berkumpul di warung lesehan di sebelah museum dan menggelar diksusi.

Diskusi  terbagi menjadi dua babak. Babak pertama, menghasilkan keputusan untuk menggelar aksi dan mengirim petisi penolakan.

Namun, setelah diskusi dinyatakan bubar, tiba-tiba dua calon Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo dan Anung Indro Susanto, muncul di diskusi yang langsung digelar lagi.

Baik Rudy maupun Anung, mereka sepakat untuk mendukung rencana mengembalikan Sriwedari menjadi asset publik.

Ari Kristyono