OPINI: Belajar Tanggap Bencana

OPINI: Belajar Tanggap Bencana

172

 

SIMULASI TANGGAP BENCANA--Sejumlah siswa SD Muhammadiyah Program Khusus Kotabarat berlarian keluar gedung sekolah saat mengikuti kegiatan Simulasi Tanggap Darurat Bencana, Selasa (19/3/2013). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
Sejumlah siswa SD Muhammadiyah Program Khusus Kotabarat berlarian keluar gedung sekolah saat mengikuti kegiatan Simulasi Tanggap Darurat Bencana, Selasa (19/3/2013). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

Agus Yulianto 

Guru SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali

Anggota IGI Soloraya

 

Bencana alam merupakan anugerah tersendiri dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kadang selama ini kita sebagai manusia beranggapan bahwa bencana alam akhir dari segala-galanya. Padahal dari bencana itu ada hikmah yang dapat kita ambil pelajaran. Permasalahannya adalah selama ini kita belum menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi bencana alam yang sewaktu-waktu melanda di daerah kita.

Melihat kondisi yang saat ini terjadi mengenai bencana baik itu banjir, gunung merapi meletus, tanah longsor dan kebakaran hutan sudah sepantasnya hal ini menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan pengamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di daerah karasedenan Surakarta salah satunya yang menjadi daerah langganan bencana alam yaitu di Boyolali setidaknya ada delapan kecamatan di kota susu tersebut yang rawan bencana. Untuk daerah rawan longsor diantaranya tiga kecamatan di kawasan lereng Gunung Merapi,  Gunung Merbabu, yakni Cepogo, Selo dan Musuk.

Kalau kita cermati akibat dari bencana alam tesebut diperkirakan masih sering terjadi penebangan pohon yang liar yang tidak diikuti dengan konservasi penanaman pohon kembali. Oleh karena itu,  perlu adanya penyadaran dalam diri masyarakat,  terutama kesadaran akan lingkungan.

Kalau kita ketahui lingkungan hidup itu merupakan sebuah media yang memiliki hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan alam sekitar. Setiap makhluk hidup menginginkan  agar  tempat hidupnya dapat memberikan keamanan. Dalam hal ini sebagai manusia kita harus menjaga alam ini dengan cara melestarikannya. Dalam Al-Qur’an pun juga ditegaskan bahwa manusia diciptakan Allah swt sebagai pengemban amanah, diantara amanah yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan di bumi (Q.S Huud:61).

Oleh karena itu,  diperlukan kesadaran bahwa tidak selayaknya manusia mengeksploitasi alam dengan semena-mena tanpa memperhatikan dampak yang  akan timbul dari eksploitasi itu sendiri. Selain itu, akibat dari bencana yang terjadi di Indonesia sering menimbulkan traumatic bagi setiap orang korban bencana alam.

Baca Juga :  Mengukir Diri, Mengabdi Pada Negeri: Refleksi Akreditasi “A” bagi UMS

Dalam ranah pendidikan selama ini di Indonesia belum ada suatu persiapan matang mengenai suatu sikap dan cara penanganan bencana alam. Hal tersebut menyisakan permasalahan tersendiri bagi dunia pendidikan. Kehancuran material  tidak hanya menyelimuti setiap bencana, akan tetapi juga menghancurkan tatanan masyarakat yang  telah tersusun rapi. Anak-anak banyak kehilangan orang tua dan sebaliknya. Banyak gedung sekolah yang roboh tinggal puing-puingnya, dan guru-guru meratapi nasib pendidikan yang semakin tidak menentu.

Dengan adanya surat edaran nomor 70a/SE/MPN/2010  tentang Pengarus utamaan Pengurangan Risiko Bencana (PPRB) dalam kurikulum SD sampai SMA/SMK yang terintegrasi di dalam semua matapelajaran, yang telah diterapkan sejak 2011.  Kebijakan tersebut mengarah pada visi dan misi kehidupan manusia dan alam, terutama di wilayah-wilayah yang secara geografi rentan terhadap bencana gempa dan tsunami.

Hal itu bisa menjadi acuan bagi dunia pendidikan bagaimana mengemas pendidikan bagi anak-anak Indonesia pasca bencana alam yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dunia internasional. Di negara Jepang seorang anak sudah diajari berbagai simulasi menghadapi bencana alam dan musibah yang mungkin terjadi. Kalau kita ketahui Jepang adalah negara langganan gempa, mereka sudah terbiasa dengan hal tersebut. Mereka dapat mencegah dan tidak kalut lagi atas segala masalah yang ditimbulkan. Bagaimana dengan Indonesia  itu sendiri, negeri yang akhir-akhir ini banyak dilanda musibah bencana alam?

Hal  itu harus menjadi perhatian semua kalangan,  karena pendidikan ini akan sangat berbeda dengan pendidikan yang dilakukan dalam kondisi damai dan aman. Pendek kata, pendidikan saat ini sudah saatnya diarahkan untuk mengantisipasi bencana. Tidak hanya lebih menyiapkan peserta didik menjadi buruh-buruh atau karyawan pabrik,  melainkan juga dapat dijadikan sebuah proses untuk menghargai kehidupan dengan bertahan hidup.

Baca Juga :  Sekolah Inklusi Gender

Model pendidikan tanggap bencana yang dapat dilakukan di Indonesia adalah dengan memberi simpati yang lebih kepada anak korban bencana,  mendorong untuk memulihkan mentalitas seorang anak karena kondisi psikis anak pasca bencana harus menjadi perhatian utama bagi setiap insan pendidik dan menceritakan gambaran saat gempa dengan bahasa mereka sendiri.

Pendidik juga harus dapat membantu mengungkapkan kegelisahan dengan cara memberikan  stimulan  berupa mengembalikan kepercayaan diri anak didik untuk dapat tampil ke muka. Selain itu, pendidik juga dapat mengajarkan sesuatu yang  berhubungan dengan kisah – kisah teladan dalam kesengsaraan yang  kemudian mendapatkan rahmat dari Tuhan dengan kebahagiaan.

Format pendidikan tanggap bencana lebih diarahkan kepada hal-hal yang rill  terjadi di tengah masyarakat. Artinya, pendidikan tidak hanya mengkonsumsi teori-teori saja,  melainkan mengajak peserta didik untuk mau dan mampu melakukan simulasi atau praktik langsung. Tentunya hal ini didahului dengan penyampaian materi yang  menyenangkan kepada peserta didik untuk cekatan dan sigap dalam menghadapi persoalan.

Selanjutnya, juga diarahkan kepada keteladanan-keteladanan sang guru  dalam kehidupan sehari-hari,  dan anak-anak pun dilatih mandiri dengan cara melihat alam sekitar. Keteladanan tersebut dapat dijadikan model pembelajaran baru bagi peserta didik korban bencana alam.

Harapannya sekolah dapat menanamkan kesadaran dan keyakinan kepada siswanya  agar peduli dengan kondisi alam sekitarnya. Terutama di daerah–daerah yang  sering kena bencana alam. Diantara mereka yang terkena korban bencana merupakan harapan bangsa  Indonesia kedepan. Yang harus kita perhatikan karena bagaimanapun juga mereka adalah asset yang sangat berharga untuk dapat melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Dengan bantuan dan kepedulian semua kalangan, anak Indonesia akan bangkit dari keterpurukan. Semoga.

BAGIKAN